Oleh : Abdullah Kafabih
Pasuruan – Ikatan Alumni PP. MUS (IKAMUS) menggelar Musyawaroh Nasional Ke-3 dan pergantian struktur organisasi periode baru bertajuk “menggapai berkah dengan khidmah”. Acara pembukaan munas dilaksanakan di Ballroom Hotel Royal Tretes View, Pasuruan pada Ahad malam, 9 Oktober 2022 M. Tak kurang, ada seratus lebih peserta yang ikut serta dan hadir dalam munas kali ini, meliputi para Masyayikh dan Mustasyar PP. MUS, Forkopimda Kab. Pasuruan, Bpk. Adi Supriyanto, selaku Ketua Kesbangpol, tamu undangan, serta utusan dari koordinator daerah (KORDA) dari seluruh cabang. Juga turut hadir K. Yusuf selaku Korda Lampung.
Acara malam itu dibuka dengan iftitah oleh K. M. Rofi’i dan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Ust. Nazir Tsalatsa lalu diiringi dengan pembacaan maulid bilqiyam dipimpin oleh KH. M. A. Ainul Yaqin yang menenggelamkan para peserta munas dalam suasana kesyahduan bershalawat kepada Baginda Nabi. Acara kemudian diisi dengan sambutan-sambutan dari berbagai pihak meliputi sambutan perwakilan KORDA yaitu KH. M. Ridlwan Muwafiq, sambutan Ketua IKAMUS periode 2017-2022 K. Mujabul Marom serta sambutan Sesepuh Alumni oleh KH. Ali Mas’adi Pengasuh PP Darul Hikmah Mojosari Mojokerto.
Di sela-sela sambutan itu, terselip banyak cerita dan kenangan manis beliau-beliau yang tak terlupakan saat menimba ilmu bersama dengan para masyayikh PP. MUS seperti Mbah Him, Mbah Ber dan Mbah Mad.
Salah satunya seperti diceritakan Gus Ridlwan (sapaan KH. M. Ridlwan Muwafiq) bahwa Mbah Him dahulu pernah menyindir lantaran keliru saat membaca sanad di hadapan tamu. Beliau berkata: “Ngene kok ape moro neng Arab?” padahal Gus Ridlwan tak ada bayangan studi ke timur tengah saat itu. Dan atas izin Allah, beberapa bulan kemudian beliau berangkat ke timur tengah seolah Mbah Him sudah mengetahuinya.
Rangkaian berikutnya adalah Mawa’idz Husna dan peresmian Musyawaroh Nasional IKAMUS ke-3 oleh Syaikhuna KH. M. Said Abdurrochim. Beliau menerangkan bahwa agama Islam menganggap teman karib memiliki hubungan seolah keluarga sendiri, sehingga teman karib boleh masuk ke rumah temannya tanpa izin. Oleh karena itu, beliau memotivasi agar ukhuwwah (persaudaraan) dalam IKAMUS sudah seperti keluarga kedua sehingga IKAMUS seperti pohon bonsai, yakni meskipun organisasinya kecil namun indah berkat persaudaraan di dalamnya. Di samping itu, Syaikhuna juga mengijazahkan sanad Madzhab Syafi’i serta mengenalkan Yasin Fadhilah karya beliau sendiri dan GB-KHS (Garis Besar-Kepribadian dan Haluan Santri dan Alumni) PP. MUS S.P45.
Tema berjudul “Menggapai berkah dengan khidmah” yang diangkat dalam munas ke-3 ini menjadi harapan agar semua para Alumni yang terwadahi IKAMUS dapat lebih semangat dalam berkhidmah, meski sudah tidak lagi tinggal di pesantren. namun koneksi mereka dengan pesantren masih kuat dengan turut berkhidmah dan berkontribusi di setiap sektor yang tersedia. (kafa/ppmus.id)







2 Komentar
Alhamdulillah, semoga IKAMUS terus berkembang sebagai bukti khidmatnya santri kepada almamater pesantrennya.
Saya M.Chozin juga alumni MUS, masuk tahun 1977 dan boyong tahun 1983. Kamarnya di Al Hambran.
Saat ini saya tinggal di Jakarta dan mengelola Pondok Pesantren Ar Risalah di Cariu Bogor.
Amiin…Ya Rabbal alamin