Oleh : Abdullah Faqih NS

Beliau adalah salah satu pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ulum Asy-Syar’iyyah. Kiai yang berdomisili di desa Karangmangu, Sarang, Rembang ini mempunya kepribadian yang patut untuk diteladani. Do’a yang disematkan ayahandanya dengan memberi nama Muhammad Adib (orang yang terpuji dan berbudi pekerti baik) dengan harapan agar beliau tumbuh menjadi insan yang mempunyai akhlak dan berbudi pekerti yang luhur, dan hal ini sangat tergambarkan pada kepribadian beliau. Banyak sekali hikayat atau cerita dari orang-orang yang dekat dengan beliau yang langsung menyaksikan dan menteledani haliyah atau perilaku yang beliau ajarkan.
Dengan do’a yang disematkan oleh sang ayah melalui nama, beliau tumbuh menjadi seseorang yang berbudi perketi luhur dan bersopan santun terhadap seluruh insan. Dakwah beliau adalah dakwah bilhal yaitu dengan menjadi suri tauladan bagi seluruh santri elemen masyarakat.
Sebagian ulama’ salaf mengatakan “Hikayat atau cerita ulama’ salaf adalah salah satu pasukan dari pasukan Allah SWT, yang dengannya Allah SWT meneguhkan hati para kekasih-Nya”. Allah SWT berfirman “Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud: 120), juga Allah berfirman “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)
Kebersihan dan Njumput Sampah
Tabi’at seseorang, jika hendak mengambil sampah yang berserakan di halaman atau di teras-teras, ia akan mencari alat kerbersihan seperti sapu, pel, dll untuk membersihkannya agar tanganya tidak kotor atau paling tidak, ia akan mengambil dengan perasaan jijik.
Hal ini tidak berlaku pada sosok KH. M. Adib Abdurrochim, beliau tidak segan untuk mengambil dengan asta (tangan) beliau sendiri, jika melihat sampah yang berserakan di halaman atau teras, seperti yang diriwayat oleh salah satu ustadz pondok.
Kala itu ketika pesantren sepi karena para santri telah pulang untuk berlibur, ia melihat beliau berjalan di halaman pondok sambil mengamati keadaan pondok, disaat itu pula tepatnya di depan rubath DU (Darul Ulum) ada bekas bungkus plastik kopi tertinggal di ujung lantai, ketika beliau melihat plastik itu, beliau langsung mengambilnya dan berkata “sopo iki gak bertanggung jawab!!”. kata-kata beliau menunjukkan kegeraman perilaku sebagian santri yang membuang sampah sembarangan, tak terkecuali puntung-puntung rokok yang berserakan.
Beliau sedikit pun tidak malu untuk memungut dan membuangnya ke tempat sampah, begitulah teladan kebersihan yang beliau ajarkan kepada santri, agar para sanrti juga selalu menjaga kebersihan lingkungan.
Adab Berpesan Melalui HP
Banyak sekali orang yang tidak menghiraukan tentang etika mengirim pesan dengan menggunakan medsos, sehingga sering kali perpecahan, pertumpahan darah dan pertikaian terjadi hanya karena tersinggung dengan kata-kata yang dikirim lewat medsos. Namun sosok spesial yang menjadi teladan bagi santri ini mengajarkan tentang tata cara berpesan yang sopan dengan menggunakan medsos.
Beliau jika ingin menyuruh sesuatu pada khodim (abdi ndalem) pasti mengawali dengan kalimat “tulung” dan diakhiri dengan kalimat “suwun”. Beliau tidak melakukan hal ini pada khadim saja melainkan setiap beliau ingin meminta tolong lewat pesan kepada seseorang beliau pasti mengawali dengan kata “tulung” dan mengakhiri dengan kata “suwun”. Itulah kepribadian beliau, tidak hanya di dunia nyata saja, sopan santun beliau juga teraplikasikan didunia maya.
Ojok Pisan-Pisan Ngeroso Eman Karo Tamu
Begitulah dawuh beliau, saat ada tamu yang ingin sowan kepada beliau dan ternyata khadim menyediakan makanan berupa mie, dan khadim menawarkan untuk megganti karpet kain dengan karpet plastik agar mengantisipasi bila ada tetesan-tetesan yang tumpah agar mudah dibersihkan. Namun beliau akhirnya lebih memilih menggunakan karpet kain agar lebih pantas untuk menghormati tamu dan belaiu berkata “ojok pisan-pisan ngeroso eman karo tamu”. Begitulah haliyah beliau dalam menghormati tamu.
Ngunjuk Minuman Tamu
Beliau tidak pernah membuang bekas minum dari tamu, dawuh beliau “piye-piye tamu iku gowo berkah masio tamu iku santri”. Bahkan jika hari raya minuman bekas tamu dapat mencapai satu teko atau dua teko. Jika beliau pergi ke dapur dan tidak melihat teko yang berisi air bekas tamu, beliau akan ghodob (marah). Dari sini, sikap tawadlu’ dan tidak tabdzir (menyia-nyiakan) tercermin pada beliau.
Memperhatikan Kerapian Santri
Beliau selalu dan selalu memperingatkan santri yang tidak berpenampilan rapi (seperti kopyah miring, kerah baju tidak rapi dan rambut gondrong), bahkan santri yang sudah mukim di rumah, beliaupun tidak segan untuk selalu memperhatikan penampilan dan kerapian. Pernah suatu ketika muta’alliqin (alumni) sowan dan rambutnya panjang, beliau mengingatkan dengan berkata “kang rambute kok dowo sesok potong yooo”. Sungguh pribadi yang mempunyai jiwa asuh dan sosial yang mulia.
Ibroh Yang Dapat Diambil
Ibroh (pelajaran) yang dapat diambil dari kehidupan KH. M. Adib Abdurrochim sangat banyak sekali, yang paling terpenting adalah etika dan moral beliau, karena tidak semua orang yang bisa beretika dan mempunyai moral seperti beliau, oleh karena itu kita bisa mengambilnya sebagai pelajaran untuk melangsungkan kehidupan sehari-hari, dan tidak cuma itu, kita akan selalu bisa menerapkan eksistensi santri dimana pun kita berada, karena beliau pasti ingin santri-santri Indonesia terkhusus kepada santri-santri PP. MUS untuk selalu menjaga eksistensi sebagai seorang santri, yaitu santri yang berilmu dan mempunyai etika serta moral yang sesuai dengan ajaran Islam, hal ini sesuai dengan sabda Nabi aladab fauqol ‘ilmi, percuma saja santri mempunyai cakrawala ilmu seluas laut terbentang akan tetapi ia tidak mempunyai etika dan moral yang baik. Oleh karena itu, mari kita mengikuti perilaku beliau agar bisa menjaga dan melangsungkan eksistensi santri sendiri seperti yang beliau inginkan. Wallahu a’lam. (fqh/ppmus.com)


