Lailatul Ijtima’ dalam rangka Malam Ta’arufan Santri & Taujihat Syaikhul Ma’had

Lailatul Ijtima’ dalam rangka Malam Ta’arufan Santri & Taujihat Syaikhul Ma’had

Sarang, Rembang — Pada Kamis malam Jumat, 21 Mei 2026, Pondok Pesantren MUS Sarang menggelar acara Lailatul Ijtima’ dalam rangka Malam Ta’arufan Santri. Acara yang berlangsung penuh khidmat ini menjadi momentum penting untuk menyambut santri baru sekaligus memberikan orientasi mengenai kepengurusan dan kedisiplinan di lingkungan pesantren.Berikut adalah rangkuman jalannya acara serta poin-poin penting dari Mauidhoh Hasanah yang disampaikan.

 

Rangkaian Acara Malam Ta’arufan

Acara dimulai tepat pada pukul 20.20 WIB yang dibuka dengan lantunan Qosidah ber-genre Siria yang menyentuh hati oleh grup hadroh Durrotus Shofa. Suasana khusyuk semakin terasa ketika pembawa acara (MC) mulai membacakan rangkaian acara pada pukul 20.58 WIB, yang dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh saudara Roimuil Huda.

Memasuki agenda inti organisasi dan kedisiplinan pada pukul 21.08 WIB, beberapa maklumat penting dibacakan oleh jajaran kepengurusan:

  • Pembacaan Qowanin Assasiyyah oleh Ust. M. Saifun Nasir.
  • Pembacaan Tata Tertib Umum PP. MUS Sarang oleh Ust. Moh. Solachuddin.
  • Pembacaan SK Personalia Pengurus PP. MUS Sarang oleh Ust. Ziyad Abdullah Ni’am.

Pada pukul 22.02 WIB, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan santri baru disampaikan oleh Saudara Saqif Fadhil (Kelas 1 Aliyah MGS asal Jepara), sementara sambutan santri lama diwakili oleh Saudara Rifa’i (Kelas 1 ‘Ala DKH asal Pamotan).

 

Pembaiatan dan Mauidhoh Hasanah KH. M. Sa’id Abdurrochim.

Puncak acara di isi dengan prosesi pembaiatan dan mauidhoh hasanah oleh KH. M. Sa’id Abdurrochim. Dalam amanatnya, beliau memberikan pesan mendalam baik untuk pengurus maupun para santri.

1. Pesan Khusus untuk Pengurus

Beliau menekankan bahwa berkhidmah (mengabdi) kepada pondok pesantren harus didasari oleh kesungguhan dan rasa butuh.”Pengurus harus memiliki perasaan bahwa saya ini betul-betul mengabdikan diri dan sangat butuh untuk berkhidmah demi mendapatkan berkah dan kemudahan. Jangan sampai ada perasaan bahwa pondoklah yang membutuhkan kalian,” tegas beliau.

2. Pesan untuk Santri: Mengetahui Hakikat Ilmu Agama

KH. M. Sa’id Abdurrochim mengajak para santri untuk bangga dan bahagia karena telah dipilih oleh Allah SWT untuk mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin). Beliau menjabarkan beberapa poin penting mengenai kewajiban menuntut ilmu:

  • Ilmu Wajib (Ilmu Hal): Setiap orang wajib mengetahui ilmu tauhid, fikih (hal-hal yang dihadapi sehari-hari), syariat mutawatiroh (termasuk yang sunnahnya sudah jelas), serta ilmu tasawuf untuk mendeteksi penyakit hati.
  • Ilmu Kifayah & Sunnah: Setelah ilmu wajib terpenuhi, santri diarahkan untuk tabahhur fil ‘ilmi (mendalami ilmu secara luas).
  • Kebutuhan Zaman: Saat ini ahli ilmu umum sudah sangat banyak, sedangkan ahli ilmu agama (mufti, mujtahid, mufasir, muhaddis) masih sangat langka di berbagai daerah.

3. Keunggulan Metode Salaf vs Perkuliahan

Beliau menjelaskan bahwa metode pembelajaran di pondok pesantren salaf jauh lebih komplit karena mengkaji kitab secara menyeluruh (khatam). Berbeda dengan sistem perkuliahan yang sering kali menggunakan diktat atau muqorror simpel yang sifatnya mengantar (pengantar/kulit luar saja).

Beliau juga menceritakan sejarah metode salaf yang fleksibel (sistem halaqoh dan klasikal madrasah) serta membagi tipe murid zaman dahulu menjadi tiga:

  • Fuqaha ul Madaris: Murid dengan kemampuan biasa.
  • Mu’id: Murid dengan kemampuan di atas rata-rata yang bisa memberi penjelasan kepada murid lain.
  • Mufid: Murid tingkat tinggi yang mampu memberi penjelasan di luar materi yang ada.

 

Kunci Keberhasilan Belajar di Pesantren

Di akhir penyampaiannya, KH. M Sa’id Abdurrochim memberikan formula sukses bagi para santri agar ilmu yang didapat menjadi berkah dan berada di dalam hati, bukan sekadar di tulisan:

  • Paham dan Hafal: Paham berarti mengerti apa yang dikehendaki oleh pengarang (mushonif) kitab, dan hafal berarti minimal tahu sebagian besar maknanya.
  • Tingkatan Muntahi: Santri tingkat atas dituntut mengetahui dalil hukum, perbandingan mazhab, titik perbedaan pendapat, hingga kemampuan untuk mentarjih (memilih pendapat yang paling kuat).
  • Tiga Pilar Utama: Keberhasilan santri diukur dari Ilmu (tujuan dan motivasi), Hal (reaksi hati/semangat), dan Amal (ketekunan nyata).
  • Faktor Pendukung: Meninggalkan hal-hal yang mengganggu, serta berada di lingkungan pertemanan yang saling mendukung dalam kebaikan.

Sebagai penutup, beliau menegaskan pentingnya menta’ati seluruh peraturan pondok pesantren dengan sebuah kaidah:

“أطِعْ تُفْلِحْ” (Taatlah kamu, maka kamu akan beruntung)

Jika kesadaran belum tumbuh, maka kedisiplinan harus dipaksa, dan insyaallah dengan berkah dari berjam’ah dan berkumpul dengan teman baik akan menumbuhkan kesadaran. Belajar harus didasari rasa senang, asyik, dan kesungguhan yang luar biasa—seperti seorang ibu yang mencari anak tunggalnya yang hilang di padang gurun.

 

Jurnalis : Achmad Fitrul Faizin

 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *