Safar dan Puasa: Penjelasan Hadis tentang Kebolehan Berbuka
ุนููู ุนูุงุฆูุดูุฉู ุฒูููุฌู ุงููููุจูู ุฃูููู ุญูู ูุฒูุฉู ุจููู ุนูู ูุฑูู ุงูุฃูุณูููู ูู ููุงูู ููููููุจูู : ุฃูุฃูุตููู ู ููู ุงูุณููููุฑูุ ููููุงูู ููุซููุฑู ุงูุตููููุงู ู. ููููุงูู: ยซุฅููู ุดูุฆูุชู ููุตูู ูุ ููุฅููู ุดูุฆูุชู ููุฃูููุทูุฑูยป.
Artinya: Dari Aisyah ุฑุถู ุงููู ุนููุง, bahwa Hamzah bin ‘Amru al-Aslami bertanya kepada Nabi ๏ทบ: “Apakah aku boleh berpuasa dalam perjalanan (safar)?” โ dan ia adalah orang yang banyak melakukan puasa โ maka Nabi ๏ทบย menjabawnya: “Jika engkau mau, silakan berpuasa.ย Dan jika engkau mau, silakan berbuka (tidak berpuasa).” (HR. Bukhari No. 1943 & Muslim No. 1121)
Fiqh hadis:
Dari hadis diatas para ulama merumuskan kalau sedang berpergian boleh untuk membatalkan puasanya atau dari pagi memang tidak puasa. Mengikuti literatur fiqih yang ada safar/berpergian disini yang dikehendaki adalah safar yang boleh untuk qasar atau minimal sudah mencapai 80,64 km. dan termasuk safar yang diperbolehkan. Sekian.
Oleh: M. Saifulloh Anwar