Sejarah Keislaman ‘Amr Bin ‘Ash
Oleh : Muhammad
Di bulan Safar, tercatat sebuah momentum bersejarah yang mengubah tokoh Quraiys yaitu ‘Amr bin ‘Ash, bagaimana ‘Amr Bin ‘Ash menemukan jalan menuju Islam?. Mari kita telusuri kisahnya.
Sepulang dari Perang Khandaq, hati ‘Amr bin ‘Ash gelisah. Ia mengumpulkan sahabat-sahabatnya dan berkata dengan nada waswas, “Sesungguhnya aku melihat kekuasaan Muhammad semakin kuat dan semakin tinggi. Aku punya sebuah ide: mari kita pergi menemui Raja Najasyi dan membujuknya. Jika Muhammad mengalahkan kaum kita, maka kita sudah berlindung di sisi Najasyi. Namun jika kaum kita yang menang, kita pun akan semakin dipandang oleh mereka.” Usul itu disambut baik. “Itu ide yang bagus,” jawab sahabat-sahabatnya. Maka berangkatlah mereka menuju negeri Najasyi, membawa banyak kulit sebagai hadiah untuk meluluhkan hati sang raja. Namun tanpa diduga, di tengah pertemuan itu datang pula Amr bin Umayyah Adh Dhamri, utusan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam, membawa urusan penting tentang Ja’far dan para sahabatnya yang berhijrah ke Habasyah.
Melihat kesempatan itu, ‘Amr bin ‘Ash menemui Najasyi secara diam-diam. Ia memohon agar utusan Rasulullah itu diserahkan kepadanya, dengan niat membunuhnya sebagai bukti kesetiaan kepada Quraisy Makkah. Namun permintaan itu justru membakar amarah Najasyi. Sang raja memukul hidung ‘Amr bin ‘Ash begitu keras, hingga ia mengira hidungnya telah patah. Ketakutan menjalar dalam dirinya. Dengan gemetar ia berkata, “Demi Allah, seandainya aku tahu engkau akan membenci permintaan ini, niscaya aku tidak akan memintanya.” Najasyi menatapnya tajam dan berkata, “Apakah engkau memintaku menyerahkan utusan seorang laki-laki yang telah didatangi oleh An Namus Al Akbar(malaikat Jibril) sebagaimana dahulu mendatangi Musa, hanya agar engkau bisa membunuhnya?”.‘Amr bin ‘Ash tertegun. “Wahai Raja, benarkah demikian?” “Celakalah engkau, wahai ‘Amr! Taatilah aku, ikutilah dia. Demi Allah, sesungguhnya dia berada di atas kebenaran. Dia pasti akan mengalahkan siapa pun yang menentangnya, sebagaimana Musa mengalahkan Fir’aun dan bala tentaranya.”
Kata-kata itu menghunjam dalam hati ‘Amr bin ‘Ash. Seketika ia berkata, “Kalau begitu, baiatlah aku untuk memeluk Islam.” Najasyi pun mengulurkan tangannya, dan di hadapan raja Habasyah itu, ‘Amr bin ‘Ash mengucap baiat masuk Islamsebuah keislaman yang untuk sementara ia sembunyikan rapat-rapat dari sahabat-sahabatnya sendiri. Setelah itu, ia pun bertekad menuju Madinah, menemui Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Di tengah perjalanan, sebelum peristiwa penaklukan Makkah, ia berpapasan dengan Khalid bin al-Walid yang justru baru saja keluar dari Makkah. “Hendak ke mana engkau, wahai Abu Sulaiman?” tanya ‘Amr bin ‘Ash. Khalid menjawab dengan mantap, “Demi Allah, jalan yang benar kini telah tampak jelas. Sesungguhnya orang itu benar-benar seorang nabi. Demi Allah, aku hendak memeluk Islam. Sampai kapan lagi aku harus menunda?”‘Amr bin ‘Ash tersenyum, “Aku pun datang ke sini tidak lain hanya untuk memeluk Islam.”
Dua hati yang dahulu berseberangan itu kini melangkah bersama menuju satu tujuan. Sesampainya di hadapan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam, Khalid bin al-Walid maju lebih dulu dan mengucap syahadat. Disusul ‘Amr bin ‘Ash yang mendekat dan memeluk Islam. Dan tak lama kemudian, Utsman bin Thalhah pun maju, melengkapi tiga keislaman yang terjadi hampir dalam satu waktu itu.
Peristiwa bersejarah ini terjadi pada bulan Safar, tahun ke 8 Hijriah.
Referensi :
kitab Al-Kamil fi at-Tarikh karya Izzuddin Ibnu Atsir.