Menu

Hikayat

Kisah Abu Darda’ yang Terlalu Tekun Beribadah

📅 17 Oct 2026 ✍️ Oleh: admin
Kisah Abu Darda’ yang Terlalu Tekun Beribadah

Oleh: Mohammad

Diriwayatkan dari Abu Juhaifah Wahb bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa suatu ketika Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam mempersaudarakan Salman al-Farisi dengan Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhuma. Ikatan persaudaraan itu tidak hanya menyatukan keduanya dalam keimanan, tetapi juga menjadi jalan bagi mereka untuk saling menasihati dalam menjalani kehidupan.

Pada suatu hari, Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’. Namun, setibanya di sana, ia mendapati Ummu Darda’, istri Abu Darda’, mengenakan pakaian sederhana dan tidak berdandan seperti biasanya. Melihat keadaan tersebut, Salman pun bertanya, “Mengapa keadaanmu seperti ini? “Ummu Darda’ menjawab, “Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak lagi memiliki ketertarikan terhadap dunia.” Tidak lama berselang, Abu Darda’ datang menemui Salman. Ia kemudian menyiapkan hidangan untuk menjamu saudaranya itu. Setelah makanan tersaji, Abu Darda’ mempersilakan Salman untuk menyantapnya. Namun, ia sendiri tidak ikut makan karena sedang berpuasa. “Silakan makan. Sesungguhnya aku sedang berpuasa,” kata Abu Darda’. Salman tidak serta-merta menerima ajakan tersebut. Ia justru berkata, “Aku tidak akan makan sampai engkau ikut makan bersamaku.” Mendengar perkataan itu, Abu Darda’ akhirnya membatalkan puasanya dan makan bersama Salman. Ia pun memenuhi permintaan saudaranya tersebut.

Ketika malam tiba, Abu Darda’ bergegas bangun untuk melaksanakan salat malam. Akan tetapi, Salman yang mengetahui kebiasaan saudaranya itu berkata, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun kembali beristirahat. Beberapa waktu kemudian, ia bangun lagi dengan maksud melaksanakan salat malam. Namun, Salman kembali memintanya untuk tidur. Abu Darda’ akhirnya menuruti permintaan tersebut hingga malam semakin larut dan mendekati penghujungnya. Barulah ketika malam hampir berakhir, Salman berkata, “Sekarang, bangunlah.” Keduanya kemudian bangun dan melaksanakan salat malam bersama-sama. Setelah selesai, Salman menyampaikan sebuah nasihat yang sangat berharga kepada saudaranya itu. “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atas dirimu, dirimu sendiri memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah kepada setiap pemilik hak apa yang menjadi haknya.”

Nasihat tersebut mengajarkan bahwa kesungguhan dalam beribadah tidak seharusnya membuat seseorang mengabaikan hak-hak lainnya. Ketaatan kepada Allah harus berjalan beriringan dengan pemenuhan hak diri sendiri dan tanggung jawab terhadap keluarga. Sebab, kehidupan seorang hamba bukan hanya tentang memperbanyak ibadah, melainkan juga tentang menempatkan setiap kewajiban secara proporsional. Setelah peristiwa itu, Abu Darda’ mendatangi Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan menceritakan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Salman. Mendengar penuturan tersebut, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam membenarkan nasihat Salman dengan bersabda:

صَدَقَ سَلْمَانُ
“Salman benar.”

Demikianlah Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menegaskan kebenaran nasihat Salman. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa semangat beribadah yang tinggi harus disertai pemahaman yang benar tentang keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Jangan sampai keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah justru membuat seseorang melalaikan hak tubuhnya untuk beristirahat, hak keluarganya untuk mendapatkan perhatian, atau hak orang lain yang menjadi tanggung jawabnya.

Referensi:

Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi.

Postingan Terkait