Tidur tidak membahayakan puasa, meskipun berlangsung hampir sepanjang hari. Sebab, tidur masih dianggap keadaan sadar yang bisa hilang saat seseorang bangun. Karena itu, tidur tidak bisa disamakan dengan praktik hilang akal yang lain misalnya pingsan. Dan menyamakan orang yang tidur lama dengan orang pingsan termasuk pendapat yang lemah.
Adapun kegilaan yang datang tiba-tiba dan berlangsung lama dapat membatalkan puasa, walaupun ada juga pendapat yang melemahkan penyamaannya dengan pingsan.
Sedangkan orang yang pingsan, para ulama memiliki beberapa pendapat yang diringkas sebagai berikut:
* Jika pingsan sepanjang hari, bisa membatalkan; namun jika sempat sadar sebagian waktu, maka puasanya tetap sah.
* Jika sadar di awal hari puasanya sah, jika tidak maka tidak sah.
* dan masih banyak lagi pendapat yang tidak perlu kita ketahui semuanya.
Keterangan ini bisa kalian lihat di kitab Al-Wasit Fil-Madzhab jus 2, hal 534 karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali.
أبو حامد محمد بن محمد الغزالي
* Berikut bunyi penjelasan dari salah satu kitab fikih
ثمَّ الْعقل زَوَاله بالجنون بانغماره بالإغماء واستتاره بِالنَّوْمِ أما النّوم فَلَا يضر وَإِن استغرق جَمِيع النَّهَار لِأَنَّهُ فِي حكم عقله يَزُول بالتنبه وَفِي إِلْحَاق مُسْتَغْرق النّوم بمستغرق الْإِغْمَاء وَجه بعيد
وَأما الْجُنُون فَيفْسد طارئه ومقارنه وَفِي إِلْحَاق طارئه بطارئ الْإِغْمَاء وَجه بعيد
وَأما الْإِغْمَاء فَفِيهِ طَرِيقَانِ
أَحدهمَا إِجْرَاء خَمْسَة أَقْوَال ثَلَاثَة منصوصة وَاثْنَانِ مخرجان أَحدهَا وَعَلِيهِ نَص هَاهُنَا أَن الْمُسْتَغْرق يفْسد فَإِن أَفَاق فِي جُزْء من النَّهَار لم يفْسد وَالثَّانِي وَعَلِيهِ نَص فِي الظِّهَار أَنه إِن كَانَ فِي أول النَّهَار مفيقا صَحَّ وَإِلَّا فَلَا وَالثَّالِث أَن الْإِغْمَاء كالحيض وَالرَّابِع مَذْهَب الْمُزنِيّ وَهُوَ أَن الْإِغْمَاء كالنوم فَلَا يضر وَإِن استغرق وَالْخَامِس شَرط الْإِفَاقَة فِي طرفِي النَّهَار مُرَاعَاة لأوّل الْعِبَادَة وَآخِرهَا
Oleh: Saiful anwar




