SARANG – Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah (MUS) Sarang kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak kader ulama yang siap terjun ke masyarakat. Melalui program Lembaga Ikatan Konsultan atau Guru Agama Da’i Khotib dan Imam (LIKGA-DKI), puluhan santri resmi diterjunkan ke berbagai daerah untuk menjalankan misi dakwah dan pendidikan.
Program yang memasuki tahun kedua ini resmi dimulai pada 16 Februari 2026, menyusul kesuksesan angkatan pertama yang dibentuk pada 18 Februari 2025 lalu.
Perluasan Jangkauan Dakwah di Jawa Tengah dan Jawa Timur
Tahun ini, cakupan wilayah pengabdian LIKGA-DKI mengalami perluasan yang signifikan. Para santri yang dikirim merupakan Mutakhorijin (lulusan) dari unit pendidikan MGS dan DKH. Mereka tidak hanya ditempatkan di sekitar wilayah Rembang, tetapi telah merambah ke berbagai titik di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Beberapa daerah yang menjadi tujuan penempatan tahun ini meliputi:
Jawa Tengah : Jepara dan Karanganyar.
Jawa Timur : Tuban, Sidoarjo, Jember, hingga menjangkau pulau Madura.
Penempatan ini bertujuan agar para santri dapat beradaptasi dengan karakter masyarakat yang beragam, mulai dari kawasan pesisir hingga daerah perkotaan.
Ragam Kegiatan: Dari Imam Tarawih hingga Literasi Kitab Kuning
Berbeda dengan program pengabdian pada umumnya, LIKGA-DKI menerapkan kurikulum yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan pondok pesantren atau masyarakat setempat. Aktivitas yang dijalankan para santri mencakup aspek ibadah formal, pendidikan formal/diniyah, hingga pembinaan mental.
Berikut adalah beberapa agenda utama yang dilaksanakan oleh para utusan LIKGA-DKI:
| Sektor
|
Jenis Kegiatan |
| Ibadah &
Dakwah
|
Menjadi Imam Tarawih, pengisian Kultum, Diba’an, dan Ngaji Umum. |
| Pendidikan
Formal
|
Mengisi jam kosong di kelas, mengajar di tingkat MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan MTs (Madrasah Tsanawiyah). |
| Pendidikan
Kitab
|
Ngaji Bandongan, Ngaji Klasikal, Ngaji Kuping (menjelang berbuka puasa), serta penguatan materi Nahwu dan Shorof. |
| Manajerial &
Organisasi
|
Pembinaan santri, teknikal musyawarah, dan pemantapan materi Diniyah. |
“Program ini merupakan jembatan bagi santri untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari selama bertahun-tahun di Sarang. Kami berharap mereka bisa menjadi solusi bagi persoalan keagamaan di daerah penempatan,” ujar salah satu pengurus program.
Menjaga Tradisi, Membangun Literasi
Salah satu poin unik dari pengabdian tahun ini adalah fokus pada pemantapan materi Nahwu dan Shorof. Sebagai santri lulusan Sarang yang dikenal kuat dalam literatur klasik, para peserta LIKGA-DKI diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat membaca kitab kuning di daerah-daerah yang mereka singgahi.
Kegiatan seperti Ngaji Kuping sebelum berbuka dan Ngaji Bandongan menjadi sarana efektif untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren tetap relevan di tengah masyarakat modern. Dengan adanya program ini, Pondok Pesantren MUS Sarang berharap hubungan silaturahmi antar pesantren di Nusantara semakin erat dan kualitas pendidikan agama di daerah-daerah semakin meningkat.
Oleh: Achmad Fitrul Faizin






