IBADAH BUKAN BELENGGU, TAPI SAYAP
Pernahkah kamu merasa ibadah terasa seperti “beban berat” di pundakmu? Jika ya, mungkin kamu perlu melihat sisi lain dari kasih sayang-Nya melalui konsep Rukhsah (keringanan).
ููู ููู ููุงูู ู ูุฑููุถูุง ุฃููู ุนูููู ุณูููุฑู ููุนูุฏููุฉู ู ูููู ุฃููููุงู ู ุฃูุฎูุฑู ููุฑููุฏู ุงูููููู ุจูููู ู ุงููููุณูุฑู ููููุง ููุฑููุฏู ุจูููู ู ุงููุนูุณูุฑู
“Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Allah tidak pernah menuliskan syariat sebagai jerat yang mencekik. Bayangkan sebuah perjalanan jauh; Allah tidak ingin kamu tersungkur hanya untuk membuktikan ketakwaanmu.
Untuk si Sakit: Tubuhmu adalah amanah. Menjaganya agar pulih adalah bentuk ibadah yang sama mulianya dengan menahan lapar.
Untuk si Musafir: Saat ufuk mulai menantang dan lelah menyapa, Allah memberikan “pintu keluar” sementara agar perjalananmu tetap dalam lindungan-Nya.
Ego sering menjebak kita: memaksa diri tetap berpuasa saat sakit demi citra โsalehโ atau takut kehilangan pahala saat safar. Padahal, Allah ingin kita menjeda demi pulih dan mengambil hadiah keringanan-Nya.
Rasulullah ๏ทบ bersabda: โSesungguhnya Allah sangat senang jika keringanan (rukshoh)-Nya diambil, sebagaimana Dia benci jika kemaksiatan dikerjakan.โ (HR. Ahmad).
Jangan mengejar lelah yang menyiksa; raihlah syukur yang meluap. Ketaatan sejati bukan soal menderita, tapi tunduk pada kasih sayang-Nya yang melapangkan. Ibadah itu sayap yang membebaskan, bukan belenggu yang mencekik.
Referensi:
Tafsir marah Labid karya Syekh muhammad Nawawi al jawi al bantani.
Oleh: Achmad Fitrul Faizin