Menu

Dark Mode
Keputusan Halaqoh Kebangsaan dan Ijma’ Ulama Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk Perubahan Indonesia Tentang Keharusan Memilih Pasangan Capres-Cawapres AMIN Berdasarkan Dalil Syar’i di Pondok Pesantren MUS Sarang Rembang Makna Jihad Membela Tanah Air di Era 5.0 MERAPATKAN BARISAN UNTUK PEMENANGAN AMIN DALAM PERSPEKTIF SYAR’I HUKUM MENYINGKAT KALIMAT THOYYIBAH! Meredam Fanatik ; Menguatkan Persatuan Dalam Pesta Politik. MENYAMBUT TAHUN POLITIK: HINDARI KONFLIK, PAKAI EMPATIK Setelah Komunisme,Masih Ada Kapitalisme Yang Perlu Dilawan! Malam Penuh Cinta Kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. MENGKAJI FIKIH DALAM PEMBERONTAKAN G30SPKI Sudahkah Kita Cinta Kepada Rasulullah? MEWASPADAI KEBANGKITAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA SEJARAH PKI PECI PUTIH; NUANSA BARU DALAM JAMA’AH MAKTUBAH Menyorot Fenomena Paham Islam-Kiri di Indonesia: Konvergensi atau Paradoks? KEBOHONGAN CITA-CITA MARXISME PRINSIP PENGELOLAAN HAK KEPEMILIKAN INDIVIDU DALAM ISLAM ; Menolak Tawaran Komunisme dalam Melawan Kapitalisme Kerusakan Ideologi Marxisme Perspektif Teologi Islam JEJAK HITAM PKI DARI IDELOGI KOMUNIS HINGGA SEJARAH KEJAHATAN DAN PENGIANATAN G30S Ku Putuskan Untuk …. Knock Out Rebahan ; Bangkit Sambut Masa Depan Ny. Hj. Chalimah Abdurrochim : Ibunda Hebat Di Balik Pengasuh PP. MUS Sarang BELA NEGARA INDONESIA MENURUT PANDANGAN ISLAM BASAHI TUBUH SAAT PUASA MASIH UTUH CARA JITU BORONG PAHALA PUASA TANPA PUASA EKSTRA Masih Junub Saat Subuh, Batalkah Puasa? Kunci Sah Puasa Saat Terjadi Muntah SAJAK RAHMAT DALAM DEKAPAN MALAM RAMADHAN IBADAH BUKAN BELENGGU, TAPI SAYAP

Berita

SAJAK RAHMAT DALAM DEKAPAN MALAM RAMADHAN

badge-check


					SAJAK RAHMAT DALAM DEKAPAN MALAM RAMADHAN Perbesar

 

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

“Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu”

Di masa fajar risalah baru menyingsing, syariat puasa hadir laksana tungku yang menempa jiwa dengan sangat kencang. Kala itu, malam Ramadhan memiliki sekat yang sunyi: begitu raga terlelap dalam tidur atau azan Isya berkumandang, pintu-pintu kedekatan duniawi antara suami dan istri tertutup rapat hingga fajar berikutnya. Sebuah aturan yang berdiri tegak di antara fitrah manusiawi dan keteguhan iman.

Namun, sejarah mencatat sebuah kegelisahan yang agung pada diri Umar bin Khattab. Sang Singa Padang Pasir itu mendapati dirinya terjebak dalam pusaran nurani yang hebat. Suatu malam, usai sholat Isya tertunaikan, kerinduan insaninya melampaui batas syariat yang saat itu masih sempit. Ia mendatangi istrinya, membiarkan asmara bertahta di saat aturan seharusnya menjaga jarak.

Seketika setelah asmara usai, kesadaran menghujam jantungnya sedalam belati. Di bawah guyuran air mandi janabah yang dingin, air mata Umar mengalir lebih deras. Ia yang biasanya tegar dan perkasa, kini tergugu dalam penyesalan yang menghimpit dada. Ia mencela dirinya sendiri; merasa telah mengkhianati amanah Tuhan yang sangat ia cintai.

Dengan langkah kaki yang berat namun dipandu oleh kejujuran yang murni, Umar mendatangi majelis Rasulullah ﷺ. Di hadapan Sang Cahaya Dunia, ia menunduk dan menumpahkan segala pengakuannya. “Wahai Rasulullah, sungguh aku memohon maaf kepada Allah dan kepadamu. Jiwaku telah tergoda, aku telah melampaui batas…” Suasana majelis mendadak hening. Namun, kejujuran Umar laksana kunci yang membuka pintu pengakuan massal. Satu demi satu, para sahabat lain mulai menunduk dengan wajah memerah, mengakui bahwa di balik ketegaran mereka, mereka pun terjatuh dalam kelemahan yang sama. Mereka adalah manusia-manusia mulia yang sedang berjuang melawan keterbatasan diri di hadapan hukum yang berat.

Maka, langit pun tak lagi diam. Tuhan yang Maha Mengetahui betapa rapuhnya tulang rusuk hamba-Nya tidak menurunkan murka, melainkan hamparan rahmat. Allah menurunkan firman-Nya yang laksana embun di tengah dahaga:

“أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ…”

“Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu…” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini turun bukan sekadar sebagai hukum baru, melainkan sebagai dekapan Tuhan yang Maha Luas. Allah menunjukkan bahwa Dia memahami setiap detak jantung hamba-Nya yang berjuang. Beban yang menghimpit pundak itu diangkat, air mata Umar diseka dengan ampunan, dan malam-malam Ramadhan pun berubah menjadi hamparan kasih sayang yang tak lagi tersekat oleh dinginnya aturan lama. Inilah keindahan syariat; ia hadir untuk memuliakan manusia, bukan untuk menyiksanya.

 

Referensi:

Tafsir marah Labid karya Syekh muhammad Nawawi al jawi al bantani.

Oleh: Achmad Fitrul Faizin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

BASAHI TUBUH SAAT PUASA MASIH UTUH

7 March 2026 - 13:00

CARA JITU BORONG PAHALA PUASA TANPA PUASA EKSTRA

7 March 2026 - 12:57

Masih Junub Saat Subuh, Batalkah Puasa?

7 March 2026 - 12:55

Kunci Sah Puasa Saat Terjadi Muntah

7 March 2026 - 12:50

IBADAH BUKAN BELENGGU, TAPI SAYAP

3 March 2026 - 15:32

Trending on Berita
batmantoto batmantoto situs togel
toto slot
slot88