ppmus.id

©
Lurus dan Aktual

Menu

Artikel

Rayakan Maulid & Kemerdekaan : Jangan Sampai Rasulullah Malu dengan Cara Kita

📅 17 Aug 2026 ✍️ Oleh: admin
Rayakan Maulid & Kemerdekaan : Jangan Sampai Rasulullah Malu dengan Cara Kita

Disarikan dari Taujihat KH. Muhammad Hasan Sa’id dalam Lailatul Ijtima’

Dalam Rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81 (13/08/26)

Oleh : Achmad Fitrul Faizin

Acara kita pada malam hari ini hakikatnya merupakan imtisalan liamrillahi subhanahu wa taala mengerjakan apa yang menjadi perintahnya. Allah Swt di dalam Al-Qur’an.

وَذَكِّرْهُم بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.’ Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar dan banyak bersyukur”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 5)

Allah memerintahkan untuk peringatkanlah mereka, ingatkanlah mereka bi ayyamillah dengan hari-harinya Allah. Nah, niki di dalam tafsir dijelaskan ayyamillah ini maksudnya ayyami niamihi taala. Hari-hari di mana kita mendapatkan nikmat dari Allah Swt. Dan nikmat yang paling agung, yang paling besar yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita adalah Maulidun Nabi, lahirnya Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, nikmat yang paling agung adalah dilahirkannya Nabi Muhammad saw di bumi ini di bulan Rabiul Awal di hari Senin.

Cara berterimah kasih terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt, bisa diekspresikan dengan berbagai cara, yang terpenting ada nilai ibadah di dalamnya. Beliau menuturkan, “Maka mengadakan maulid. Acara-acara seperti ini tidak lain merupakan bentuk terima kasih, bentuk ucapan syukur kita kepada Allah Swt atas nikmat yang beliau berikan berupa lahirnya baginda Nabi Muhammad saw. Dan syukur kepada Allah dengan dilahirkannya Nabi Muhammad saw ini bisa dengan berbagai cara, bisa dengan berbagai bentuk. Yang terpenting di dalamnya terdapat nilai ibadah. Yang terpenting ada nilai qurbah. Bisa dengan membaca Quran, bisa dengan shalat, bisa dengan sodaqah, bisa dengan membaca sirah, sejarah Nabi Muhammad saw. Bisa juga dirayakan dengan semisal mengadakan Bahsul Masail atau mengadakan musyawarah. Apapun bentuknya yang penting bernilai ibadah. Maka itu termasuk takzim kita kepada Maulid Nabi, bentuk syukur kita kepada Allah atas dilahirkannya Nabi Muhammad.

Bahkan termasuk perkara-perkara mubah yang apabila diniatkan, diekspresikan sebagai bentuk kegembiraan kita atas lahirnya Nabi Muhammad, ini pun juga bisa dilakukan di dalam maulid. Jadi, semua yang bernilai ibadah atau perkara mubah yang menunjukkan kegembiraan kita dengan datangnya bulan Rabiul Awal. Seperti yang dijelaskan oleh Imam al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani. Beliau ketika ditanya tentang maulid, apa saja yang dilakukan saat mengadakan maulid? Beliau menjawab,

وَأَمَّا مَا يُفْعَلُ فِي الْمَوْلِدِ فَيَنْبَغِي أن يَقْتَصِرُ عَلَى مَا يُفْهِمُ الشُّكْرَ لِلَّهِ تَعَالَى كالتِلَاوَةٍ، وَالصَدَقَةٍ، وَالإِطْعَامٍ، وَإِنْشَادِ الْمَدَائِحِ النَّبَوِيَّةِ

Beliau menjelaskan apa saja yang dilakukan di dalam acara maulid, di dalam takzim maulid nabi ini. Apapun yang yufhimus syukro lillah yang menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah. Syukur itu hanya bisa diungkapkan di dalam hal-hal yang bernilai ibadah seperti membaca Quran, bersholawat, membaca sirahnya Nabi. Dan bukan hanya yang bernilai ibadah,

وَمَا كَانَ مِنْ ذٰلِكَ مِنَ الْمُبَاحَاتِ بِحَيْثُ يَقْتَضِي إِظْهَارَ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ بِذٰلِكَ الْيَوْمِ فَيَنْبَغِي إلحاقه بِهِ

Begitu juga dengan hal-hal mubah selama tidak makruh, tidak haram. Kalau dilakukan sebagai bentuk ekspresi kegembiraan kita, rasa senang kita dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW, maka ya itu termasuk hal-hal yang dilakukan di dalam maulid. Makanya kalau di Tarim Yaman itu setiap bulan Maulid ada lampu-lampu yang dihias di jalanan di kampung-kampung, ada bendera-bendera kemudian juga ada sebagian pakai mercon, tapi sedikit lah.

Semua itu, termasuk perkara mubah yang izharul farah bil maulid. Maka bentuk syukur kita kepada Allah SWT dengan merayakan Maulid ini sebagaimana syukurnya Nabi Muhammad SAW kepada Allah karena dilahirkan di hari Senin, maka beliau puasa di hari Senin. Kemudian ketika ditanya oleh para sahabat beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ

“Itu hari di mana aku dilahirkan”

Dan juga di dalam acara kali ini kita bersyukur kepada Allah SWT, karena telah diberi nikmat berupa nikmat kemerdekaan ditanggal 17 bulan Agustus. Dengan itu kita bisa belajar, bisa mondok dengan tenang, tidak takut dengan perang, tidak takut dengan suara-suara tembakan atau bom.

Saya juga pernah mengalaminya, lagi enak-enak belajar tiba-tiba dor, ada bom, ada tembak-tembakan pemberontak sama pemerintah,” kenangnya. Dari pengalaman itulah bahwa memperingati kemerdekaan Republik Indonesia termasuk dalam perintah wa żakkirhum bi’ayyāmillāh, mengingat hari-hari pemberian Allah, sebab berkat kemerdekaan itu pula, generasi sekarang bisa belajar dan mondok dengan aman, damai, tenang dan mendapatkan MBG.

Apakah program tersebut sudah masuk ke pondok atau belum ?, program itu cukup meringankan beban santri yang biasa “ngutang” di warung kos. Namun termasuk adabut thalib itu menghindari syubhat. Menghindari makan syubhat. Karena makan makanan syubhat apalagi haram itu nggarai dedel. Dedel itu artinya bikin kita lemot, enggak hafal-hafal muhafadzoh, enggak paham-paham belajar.

Kitab-kitab fikih menjelaskan bahwa sesuatu yang syubhat tetap bisa memberi pengaruh buruk kepada tubuh yang memakannya, apabila yang dimakan itu memang ainu mali syubhat, yakni barangnya sendiri yang syubhat. Beliau memberi ilustrasi, misalnya seseorang menerima uang syubhat dari pejabat, lalu uang itu dibelikan makanan dengan akad tsaman mu’ayyan, yakni ditentukan langsung bahwa pembelian itu memakai uang tersebut, bukan fi dzimah (dalam tanggungan). Dalam kasus semacam ini, makanan yang dibeli bisa terpengaruh status syubhat dari uangnya, dan itulah yang bisa membuat “digawe ibadah angel, digawe belajar enggak paham-paham, digawe ngafalno enggak hafal-hafal” — dibuat ibadah terasa berat, dibuat belajar tidak paham-paham, dibuat menghafal tidak hafal-hafal.

Tapi di zaman sekarang ini sudah tidak ada lagi tsaman mua’yyan. Bahkan tidak ada lagi shigat. Shigat jual beli kan enggak ada yang pakai tsaman mua’yyan. Semuanya pakai fi dzimah. Makan dulu bayar belakangan, totalan mburi artinya tsaman nya tidak di-ta’yyin. Berarti yang dia buat makan itu bukan uang syubhat. Kenapa? Karena tsaman nya fi dzimah, enggak ditentukan harus pakai uang ini, bisa pakai uang yang lain. Kalau kebetulan melunasinya pakai uang ini, yah itu bentuk pelunasan saja, tapi makanan yang saya terima, yang saya beli itu tidak pakai uang syubhat”.

Makanya ini termasuk hilah yang disebutkan oleh para ulama, Bagaimana cara kita mentasarufkan uang syubhat agar tidak masuk kepada tubuh kita. Caranya belinya pakai tsaman fi dzimah. Program MBG sudah bisa dikategorikan berjalan dengan akad dzimah, sehingga cukup meringankan beban santri yang biasanya harus membayar makan kos tiga kali sehari, kini bisa berkurang menjadi sekali atau dua kali saja. Orang-orang yang belajar ilmu umum saja dikasih makan, masa yang mempelajari ilmunya Allah, ilmunya Rasulullah, enggak dikasih MBG?.

Bahwa dahulu, orang-orang yang berjuang melawan penjajah dan memerdekakan negeri-negeri muslim, kebanyakan justru berasal dari kalangan sufi, orang-orang yang gemar membaca maulid. Biar ada hubungannya kemerdekaan dengan maulid, ujar beliau sambil tersenyum.

Jadi yang mayoritas yang berjuang di berbagai belahan negeri Islam dari cengkeraman penjajah itu mayoritas adalah para sufiah, para orang-orang sufi yang suka baca maulid, yang suka maulidan, yang punya mahabbah dan ta’aluq kepada Rasulullah saw.

Di Libya, ada Umar Mukhtar, seorang tokoh sufi pengamal tasawuf yang berjihad melawan Italia. Di Aljazair, ada Abdul Qadir Aljazairi, tokoh pejuang kemerdekaan yang mengusir Perancis. Kemudian, dengan cara yang mengundang gelak tawa para santri, beliau menyebut kawasan Chechnya dan Dagestan di Rusia, tempat lahirnya “yang brewok-brewok UFC itu, Khabib Nurmagomedov” Imam Syamil, tokoh sufi, mursyid Thariqah Naqsyabandiyah, sekaligus pejuang yang gigih mengusir Rusia dari tanah Chechnya. “Mukanya kayak Khabib Nurmagomedov.

Kemudian di Palestina juga ada Izzuddin Al-Qassam, itu juga seorang penganut Thoriqoh Syadziliyah, ikut berperang melawan Inggris hingga ditawan akhirnya sampai meninggal, kemudian namanya di abadikan sebagai nama Brigade Al-Qassam. Lalu ke Turki, dengan nama Said An-Nursi.

Lalu di Indonesia kebanyakan yang berperang melawan penjajah adalah para santri-santri ini, yang suka maulidan, tokoh-tokoh sufiah Diponegoro, para santri-santri pengamal tarekat.

Kenapa demikian? Karena di dalam ajaran tasawuf, di dalam ajaran para sufiah itu ada satu bab yang dikenal dengan Al-hurriyah “kemerdekaan”. Jadi kalau panjenengan baca-baca kitab tasawuf seperti Risalah Al-Busyairiyah itu ada bab khusus babun fil hurriyah. Bab menjelaskan kemerdekaan :

أَنْ لَا يَكُونَ الْعَبْدُ تَحْتَ رِقِّ الْمَخْلُوقَاتِ وَلَا يَجْرِيَ عَلَيْهِ سُلْطَانُ الْمُكَوَّنَاتِ

Jadi hurriyah kemerdekaan menurut tasawuf itu adalah seorang manusia itu hanya menghamba kepada Allah Swt. Dia Merdeka, dia tidak diperbudak oleh makhluk, tidak diperbudak oleh Sultanul Mukawanat, tidak diperbudak oleh lingkungan, oleh masyarakat, oleh pergaulan, kemudian oleh uang. Dirinya benar-benar merdeka hanya menghamba kepada Allah. Itu namanya Hur. Jadi hurriah itu termasuk maqom min maqom As-Salikin termasuk makamnya para salik.

Kalau panjenengan masih diperbudak selain Allah Swt, mudah dipengaruhi oleh lingkungan, koncone nganan melu nganan, koncone ngiri melu ngiri, berarti belum merdeka, tegasnya. Termasuk diperbudak oleh trend yang sedang booming lalu ikut-ikutan tanpa alasan, itu pun belum termasuk golongan al-ahror, orang-orang yang merdeka. Bahkan diperbudak oleh handphone atau smartphone pun termasuk bentuk perbudakan zaman ini.

Handphone ini kan kita yang memiliki, maliknya kita, mamluknya itu HP. Kita yang mengatur HP, bukan HP yang mengatur.” karena ini konteksnya mau pulang liburan Maulid. Jadi boleh main HP ya saat dirumah? Mumpung liburan? Berarti masih belum merdeka, karena diperbudak oleh HP, dikit-dikit buka HP.

Merdeka itu bukan berarti bebas hidup tanpa aturan, enggak!! Merdeka itu hidup hanya menghamba kepada Allah, tidak diperbudak oleh dunia, oleh lingkungan, oleh masyarakat, oleh pergaulan, oleh tren dan lain sebagainya.

Ribath, sebagaimana sering terdengar dalam nama Ribath As-Sufiah. Beliau menjelaskan bahwa istilah ribath sebetulnya berasal langsung dari Al-Qur’an :

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang”
(QS. Al-Anfal (8): Ayat 60)

Pada mulanya, ribath bermakna pasukan yang menjaga perbatasan wilayah, terutama daerah-daerah konflik yang berbatasan langsung dengan wilayah musuh. Namun, setelah keadaan berangsur damai dan musuh berhasil dikalahkan, para sufi mengalihfungsikan tempat-tempat penjagaan tersebut menjadi tempat berkumpul untuk berzikir kepada Allah Swt, tempat yang digunakan untuk berkumpul, berzikir, membaca maulid, dan belajar, persis seperti yang sedang dilakukan para santri malam itu. Dari sinilah lahir istilah ribatus sufiyah, yang menjadi cikal bakal dari pondok pesantren setelah era Ahlus Suffah.

Makanya kalau di pondok pesantren luar negeri di Yaman semisal, pondok pesantren itu disebut dengan ribath atau kalau di sini ribath itu komplek, ribath NH ribat DU. Jadi yang dulu aslinya ribath itu digunakan untuk berjihad melawan musuh. Sekarang ribath itu di alih fungsikan menjadi pondok pesantren yang digunakan untuk berjihad mencari ilmu.

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Siapa yang mencari ilmu, keluar mondok, maka dia termasuk orang yang berjihad fi sabilillah hingga ia kembali.”

Istilah Ribath As-Sufiah atau waqaf ala ribati sufiah, dan di sebagian daerah dikenal pula dengan istilah khanqoh, banyak ditemukan dalam kitab-kitab fikih klasik sebagai jejak sejarah transformasi ribath dari basis pertahanan militer menjadi basis pendidikan spiritual.

Maka seorang santri harus menjadi almurabit. Al-Murabit itu julukan untuk orang-orang yang menjaga perbatasan, disebut juga dengan al-Murabitin dalam makna menjaga perbatasan agar negeri tetap aman dari serangan musuh.

Santri itu juga murabitin, termasuk orang-orang yang menjaga dan membentengi, tapi bukan lagi dari penjajah, bukan lagi dari musuh, tapi membentengi keluarganya, membentengi masyarakatnya, membentengi lingkungannya dari pengaruh-pengaruh buruk. membentengi akhlak mereka, akidah mereka, amaliah mereka dari segala bentuk pengaruh buruk yang ada di luar Masyarakat.

Setelah pulang dari pondok, tetap menjaga jati diri sebagai al-murabitin, bukan justru terbawa arus dan ikut-ikutan lingkungan yang kurang baik. Jangan malah pulang malah ikut-ikutan masyarakat, maka itu bukan hur pesannya, mengingatkan bahwa jika sampai terjadi demikian, maka anda bukan hur. Jangan sampai diperbudak oleh pengaruh buruk. Koncone dolan melu dolan, koncone selawatan melu selawatan, koncone maksiat melu maksiat. Dia masih belum merdeka. Makanya na’udzubillahi minzalik, koncone ngepil melu ngepil, koncone judi melu judi, koncone ngeslot melu ngeslot. na’udzubillahi minzalik.

Padahal tugas santri saat pulang liburan maulid ini adalah menjadi pribadi yang hur, yang merdeka, yang tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar, sekaligus menjadi al-murabith yang menjaga akhlak diri, keluarga, dan masyarakatnya, bukan justru terjajah oleh pengaruh buruk dari pergaulan teman-temannya.

Na’udzubillahi minzalik, ngepil, narkoba, judi, dan judi online atau “slot”, ini sudah marak di masyarakat. Allah dalam:

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ

“Sesungguhnya khamar (minuman keras), perjudian, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan.”
(QS. Al-Ma’idah : 90)

Banyak makanan halal, banyak minuman halal, banyak permainan yang halal, game-game kan banyak yang halal minimal makruh, seperti COC dan sebagainya. Itu tidak haram, kenapa makruh? Karena tidak ada unsur judi dan permainannya mengandalkan skill, setiap permainan atau lahwun atau laib yang mengandalkan skill, bukan hanya mengandalkan keberuntungan, itu hukumnya tidak haram, sekadar makruh, kalau sekarang seperti ML. Banyak yang halal, yang tidak sampai haram kok sampai main slot atau judi dan sejenisnya, itu mengajarkan mental bukan pekerja tapi mental mengandalkan keberuntungan, makanya diharamkan dalam syariat, sebagaimana permainan dadu (nardi) yang hasil kemenangannya sama sekali tidak bisa diukur lewat usaha dan kemampuan, tapi murni keberuntungan.

Na’udzubillah, santri yang seharusnya menjadi murabith, al-Hur justru terpengaruh oleh lingkungan, oleh trend. Tidak masalah punya hobi, punya kesenangan, pulang ngopi sama teman-teman. Nabi saw bersabda :

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا: النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“”Dijadikan aku mencintai sebagian hal dari dunia kalian: wanita (istri-istri yang salehah) dan wewangian, serta dijadikan puncak kesenanganku ada di dalam shalat.”

Apapun hobinya, apapun kesukaannya, apapun kesenangannya, selama tidak haram, selama tidak meninggalkan kewajiban, silahkan. Dan jangan lupa ketika pulang nanti sesibuk apapun kita dengan segala macam bentuk permainan tadi, sesibuk apapun kita dengan segala macam bentuk wisata, ngopi dan lain sebagainya tadi, jangan sampai lupa bahwa mondok mencari ilmu di pesantren adalah bagian dari jihad fi sabilillah dan kepulangan ke rumah pun sesungguhnya termasuk bentuk jihad yang lain. Ada sebuah riwayat, ketika seorang sahabat meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk berjihad, Rasulullah bertanya kepadanya apakah kedua orang tuanya masih hidup. Sahabat itu menjawab bahwa keduanya masih ada. Maka Rasulullah bersabda:

فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

“Maka berjihadlah untuk keduanya”.

Jihad sang sahabat pun dialihkan oleh Rasulullah, dari medan perang menjadi bakti kepada kedua orang tua. Selama 24 jam main HP, 24 jam sibuk ngopi, pulang-pulang minta uang ke orang tuanya, pulang-pulang minta dibuatkan makanan, “bu, luwih, bu”. Padahal dia hidupnya 24 jam main HP, namun ketika lapar pulang ke rumah meminta dibuatkan makanan oleh orang tuanya. Termasuk tanda kiamat ialah,

أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا

“Seorang Perempuan, seorang ibu melahirkan majikannya”

Allah Ta’ala berfirman :

فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنُهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Kalau diterapkan di Indonesia yah, memakai bahasa Jawa dengan kromo inggil “bahasa halus”. mau memulai sungkan karena dari dulu sudah biasa, Mak, jaluk iki, Mak, jaluk iki, Mak. Biarkan!! sungkan itu akan menjadi hilang kalau sudah terbiasa. Dan itu bisa menjadi perubahan yang luar biasa. Setelah kita mondok, kita harus menunjukkan ada peningkatan, ada perubahan yang dulunya tidak berbahasa Jawa inggil kemudian berbahasa Jawa inggil kepada orang tua, Nah, ini termasuk Ucapan yang mulia.

Sayyidina Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang dipuji langsung oleh Rasulullah saw, bahkan didoakan dan dikirimi salam oleh beliau. Dia mampu untuk belajar, pergi ke Madinah mondok menemui Rasulullah saw langsung, mengambil ilmu kepada Rasulullah saw, beliau mampu untuk menjadi sahabat, menggapai fadilah yang sangat besar menjadi sahabatnya Nabi. Beliau mampu dengan pergi ke Makkah, pergi ke Madinah. Namun ia memilih tetap tinggal di rumah untuk berbakti kepada ibunya. Pilihan itu justru mengantarkannya pada pujian dan doa langsung dari Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua ini sangat luar biasa fadilahnya. bahkan mengalahkan fadilah dia pergi menemui langsung Rasulullah, belajar ilmu langsung dari Rasulullah menjadi seorang sahabat.

Belajar di pondok termasuk jihad fi sabilillah, maka pulang liburan, pulang maulid, pulang akhir tahun, juga termasuk jihad fi sabilillah lewat jalan berbakti kepada orang tua.

Nabi saw bersabda :

تُعْرَضُ عَلَيَّ أَعْمَالُكُمْ، يوم الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَمَا كَانَ خَيْرًا فحَمِدْتُ اللَّهَ عَلَيْهِ، وَمَا كَانَ مِنْ شَرٍّ فَاسْتَغْفَرْتُ اللَّهَ لَكُمْ

“Amal-amal kalian dihaturkan kepadaku. Apa yang baik, aku puji kepada Allah. Dan apa yang buruk, aku memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian.”

Dalam riwayat lain disebutkan pula:

أَفَلَا تَسْتَحْيِي أَنْ يُعْرَضَ عَلَى نَبِيِّكُمْ العَمَلُ القَبِيْحُ

“Apakah kalian tidak malu jika amal-amal kalian dihaturkan kepada Nabi kalian, sementara amal kalian tidak baik?”

Tidak bisa kita bayangkan ini Rasulullah ini fulan di rumah ngeslot, di rumah ngepil, di rumah ngopi 24 jam salatnya lupa, ditakhir semua salatnya jadi satu.

Pergaulan dan tren di luar sana semakin jauh dari nilai-nilai baik. Karena itulah, tegas beliau, “seorang santri harus benar-benar menjadi al-murabitin yang membentengi keluarga, masyarakat, dan lingkungannya dari pengaruh-pengaruh buruk tadi. Dan termasuk caranya berkumpul dengan teman yang satu circle. Kalau pulang ke rumah yah ngopinya sama sesama santri. Santri yang sama-sama daerahnya sama dengan kita. Setelah perkumpulannya agak banyak, ngajak yang bukan santri ikut ngopi. Akhirnya kita bisa menjadi orang yang mempengaruhi orang lain, bukan yang terpengaruh oleh orang lain. Biasannya yang dilakukan oleh alumni-alumni, oleh santri-santri ketika sudah pulang kerumah. Mereka membangun circle sesama santri, kalau circelnya sudah besar maka mengajak orang-orang lain diluar santri, sehingga mereka bisa terpengaruh prilaku baik para santri yang biasa kita lakukan di rumah.

Termasuk ketika kita pulang ke rumah berbakti kepada orang tua, membantu orang tua, ketika orang tua punya bisnis, punya usaha, punya sawah atau punya toko atau punya wadzifah ma’isyah (pekerjaan), maka kita juga harus membantunya bukan hanya menikmati bukan hanya minta kiriman tapi juga ketika pulang ke rumah juga membantu orang tua, ke sawah, ke toko, jaga warung, apapun ma’isyah-nya kita bantu. Kalau orang tuanya punya pondok atau apa kita bantu mengajar disana, bukan hanya minta kiriman, tapi kadang dimaklumi sama orang tua, maklum di pondok tirakat sudah full kegiatan, kesempatan liburan ini kesempatan dimanja. Kesempatan dijadikan sayyid (tuan) di rumahnya, orang tuanya jadi budak.

أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا

“Seorang Perempuan, seorang ibu melahirkan majikannya”

Bagikan artikel ini: