KEGEMBIRAAN MEMPERINGATI HARI KELAHIRAN
Kamis malam Jumat (13/08/2026), Pondok Pesantren Ma’hadul Ulum Asy-Syar’iyyah Sarang mengadakan acara Lailatul Ijtima’ dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81.
Pusat kegiatan Lailatul Ijtima’ ini berada di depan Ndalem KH. M. Sa’id Abdurrochim, dengan pembacaan Maulid Simtud Duror yang diiringi oleh Hadroh Durrotu Shofa. Seluruh santri Pondok Pesantren MUS turut hadir mengikutinya, baik yang masih reguler maupun yang sudah menjadi pengurus.

Dalam acara ini ada hal yang menarik. Biasanya yang berada di barisan depan adalah santri-santri yang masih kecil, yakni santri TA atau santri Ibtida’ dan santri Tsanawi. Namun pada malam hari ini, barisan depan justru diisi oleh santri tingkat Aliyah MGS dan para pengurus pondok.


Selain itu, ada pula penghargaan Santri Inspiratif Awards 48 dengan enam kategori penghargaan, yeng pertama kategori Ilmiyah dengan kriteria Nilai tertinggi dalam ikhtibar & keaktifan kegiatan Ma’arif, kedua kategori Amaliyah dengan kriteria Keaktifan sektor kamar dalam suksesi Kegiatan Tarbiyah, ketiga kategori Khidmah dengan kriteria Keseimbangan kegiatan khidmah & ilmiah, keempat kategori Tandhim & Harakah dengan kriteria Inovatif, Teratur & Aktif mengelola, menggerakan serta mengarahkan santri dalam mengikuti kegiatannya, kategori kelima yaitu Mubahis (santri aktif dalam mubahasah) dengan kriteria Keaktifan & Tingkat kekuatan argumentatif dalam musyawarah pondok, dan yang terakhir kategori Iksamus dengan kriteria Kekompakan korda dalam kegiatan kedaerahan meliputi musyawarah, lailatul ijtima’, motivasi untuk mengikuti kegiatan ma’hadi atau madrasi dan momentum liburan. Penghargaan ini bertujuan agar menjadi motivasi untuk para santri dalam meningkatkan prestasi dikemudian hari, serta mendapat barokah dan manfaat dari hasil yang telah diraih sekaligus memicu daya saing dalam kegiatan positif.


Acara ini berlangsung lancar dan Khidmat. Pembacaan Simtud Duror dipimpin oleh KH. Muhammad Hasan Said dan K. Abdullah Ammar, kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh oleh KH. Muhammad Hasan Said.

Dalam mauidhohnya, beliau menjelaskan arti syukur, bahwa cara untuk bersyukur bisa diekspresikan dengan berbagai cara apa pun, selama di dalamnya terdapat bentuk ibadah atau upaya mendekatkan diri kepada Allah. Lalu beliau melanjutkan dengan menjelaskan makna kemerdekaan itu sendiri. Beliau juga menyinggung hal-hal yang biasa dilakukan santri saat liburan, dan dalam menjelaskan hal ini beliau sedikit menyindir para santri, sehingga menyebabkan gelak tawa dari santri yang mendengarnya.

Pukul 22.20 WIB, beliau mengakhiri mauidhohnya mengingat hari sudah malam dan biasanya malam Jumat digunakan para santri untuk bermain bola. Beliau kemudian menyambungkannya dengan doa dari maulid Simtud Duror.
Setelah acara Lailatul Ijtima’ berakhir, ada pengumuman yang menghimbau agar para santri tetap berada di tempat karena akan ada pembagian nampanan. Mendengar hal itu para santri merasa gembira, namun tetap ada yang meninggalkan tempat acara karena gerimis mulai turun. Namun tidak berselang lama, gerimis mereda dan nampanan pun dikeluarkan.

Para santri mengambil nampan yang masing-masing berisi enam porsi, sehingga yang mengambil satu nampan harus mencari lima santri lain untuk bergabung. Ada yang membawanya ke halaman, ada pula yang ke pelataran Rubat DU. Di tengah-tengah acara makan, gerimis kembali turun, sehingga para santri yang sedang makan di halaman berlarian sambil membawa nampan masing-masing karena takut ketambahan kuah air hujan.

Penulis : Achmad Fitrul Faizin.