Menu

KH. SYU’AIB BIN ABDURROZZAQ

Kelahiran

Kiai Syu’aib dilahirkan di Sarang pada tahun 1263 H. Beliau adalah putra dari KH. Abdurrozaq bin Kamil dengan putri Mbah Saman bin Yaman (yang berasal dari Ujungpangkah, Sidayu). Mbah Yaman pindah ke Sarang bertepatan dengan terjadinya peperangan besar di Aceh yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Islam tersebut di bawah kekuasaan penjajah pada tahun 1898 M., sebab politik adu domba Belanda, yaitu politik belah bambu, dengan menginjak satu sisi bambu dan mengangkat sisi bambu yang lain.

Sekitar abad ke-17 Masehi, Mbah Yaman ikut berhijrah ke Sarang bersama rombongan Mbah Lanah. Hingga akhirnya mereka berdua dianggap menjadi leluhur di Sarang, sebab segudang jasa yang telah mereka torehkan.

Masa Kecil Dan Ta’allum Kh. Syu’aib

Di waktu kecil, Syu’aib tumbuh dalam asuhan orang tuanya, yaitu KH. Abdur Rozaq, dan kemudian belajar dasar-dasar ilmu agama kepada KH. Ghozali di Sarang. Ketika menginjak usia 20 tahun, seusai berguru kepada KH. Ghozali, beliau melanjutkan perjalanan keilmuannya ke Kabupaten Pati, tepatnya di Dukuh Kajen, Margoyoso, dan berguru kepada Syaikh Murtadho. Syaikhina Maimoen Zubair mengungkapkan bahwa Syaikh Murtadho adalah guru KH. Syu’aib sewaktu beliau belajar di Pati. Syaikh Murtadho merupakan seorang sufi, ahli teologi, mursyid thariqah shufiyyah, serta ahli syariat dan hakikat.

Selama di Pati, Syu’aib muda belajar banyak sekali fan ilmu agama dari Syaikh Murtadho. Selain belajar ilmu thariqah, beliau juga belajar ilmu tauhid, fikih, dan fan lainnya. Beliau bertalaqqi (membaca Al-Qur’an di hadapan guru) kepada Syaikh Murtadho dari awal hingga akhir. Beliau juga belajar talqin dzikir dan suluk thariqah yang kemudian menghantarkannya menuju makrifat kepada Allah ta’ala. Dalam asuhan gurunya itu, Syu’aib muda akhirnya tumbuh menjadi seorang yang alim lagi amil, ahli wirid, dan berwawasan luas dalam berbagai fan agama.

Pergi Ke Baitullah

KH. Syu’aib banyak mewarisi sifat-sifat gurunya yang menjadi seorang alim dan sufi. Bisa dikatakan, beliau termasuk kategori orang berada, sehingga beliau pernah memberangkatkan haji kepada empat orang sekaligus pada tahun yang sama. Syaikhina Maimoen Zubair mengisahkan bahwa KH. Syu’aib pernah bertandang ke Baitullah dengan mengajak empat orang yang seluruhnya dibiayai oleh beliau, yaitu: istri beliau, KH. Abdulloh, dan KH. Zubair Dahlan.

Menthalaq Dunia

Kata “thalaq” yang biasa kita ketahui kebanyakan ditemukan dalam istilah rumah tangga, di mana seorang suami melepaskan tali pernikahan dengan shighat-shighat khusus, atau dalam bahasa lain disebut menceraikan. Namun untuk kasus lain, ternyata KH. Syu’aib menggunakan istilah tersebut untuk hal yang tidak biasa, yakni “menthalaq dunia”. Artinya, ucapan KH. Syu’aib yang dilontarkan memiliki konsekuensi berpisahnya seseorang (KH. Syu’aib) dengan dunia. Lebih tepatnya, tidak terlalu menggantungkan diri pada harta duniawi. Dalam bahasa lain, hal ini familiar dengan istilah zuhud. Bukan berarti beliau tidak butuh sama sekali kepada dunia; KH. Syu’aib tetap mempergunakan dunia secukupnya, menjadikannya sebagai lantaran untuk beribadah dan bertaqarrub kepada Allah swt.

Beliau pernah berkata, “طلقت الدنيا ثلاثا” (aku talak dunia dengan tiga kali talakan).

Peristiwa ini terjadi ketika usia beliau hampir 60 tahun. Kala itu, KH. Syu’aib selalu membantu orang-orang yang kesusahan dengan cara memberi pinjaman uang kepada yang membutuhkan. Hal itu senantiasa beliau lakukan, sampai akhirnya beliau tidak memiliki cukup harta untuk meminjamkannya kepada orang lain, karena banyak di antara mereka yang ternyata tidak mampu melunasi utang-utang yang telah jatuh tempo. Mengalami hal itu, KH. Syu’aib lantas berucap:

طلقت الدنيا ثلاثا

KH. Zubair Dahlan pernah bercerita kepada KH. Maimoen bahwa selang beberapa hari setelah KH. Syu’aib menthalaq dunia, beliau diberi ujian yang cukup berat oleh Allah ta’ala. Tiba-tiba saja orang-orang yang telah berutang kepada KH. Syu’aib mengalami sakit-sakitan yang menghantarkan mereka pada ajal. Mengetahui hal tersebut, KH. Syu’aib lantas memutuskan untuk membebaskan semua utang-utang mereka. Tak hanya itu, KH. Syu’aib juga turut serta memandikan jenazah mereka semua secara lillahi ta’ala, lalu menyegerakan pemakaman agar mereka hidup tenang di sisi Allah swt.

KH. Syu’aib sendiri, ketika melontarkan ucapan “طلقت الدنيا ثلاثا”, menjadi fakir hanya secara zahirnya saja. Namun, aset-aset yang beliau miliki tidak lantas langsung habis, tetap masih banyak. Seperti tanah-tanah mulai dari perbatasan hingga Sarang, didominasi kepemilikannya oleh KH. Syu’aib.

Maqam Kasyf

Kitab yang sering diajarkan KH. Syu’aib ialah kitab-kitab berukuran kecil. Jika digambarkan dari segi perawakannya pun, KH. Syu’aib memiliki tubuh yang kecil, dibandingkan dengan KH. Umar Harun yang berpostur besar lagi gagah dan seringkali mengajar kitab-kitab berukuran besar. Tatkala KH. Syu’aib tak lagi kaya setelah menthalaq dunia sebanyak tiga kali, kehidupan ruhaniahnya mengalami peningkatan yang luar biasa. Waktunya senantiasa beliau gunakan untuk menyibukkan diri dengan berkontemplasi serta berzikir kepada Allah swt., bahkan ketika beliau sedang berada di jalan pun, beliau tetap berzikir. Pendek kata, tak ada celah waktu untuk mengingat selain Allah ta’ala. Hingga banyak orang pada saat itu, termasuk pula KH. Umar Harun, mengira bahwa KH. Syu’aib sudah gila.

Suatu hari, ketika sedang salat berjamaah, KH. Syu’aib bermakmum kepada KH. Umar Harun. Setiap kali KH. Umar teringat akan urusan dunia dalam salatnya, KH. Syu’aib dapat mengetahui dan merasakannya dengan ilmu kasyaf yang beliau miliki. Lantas, KH. Syu’aib membatalkan salatnya dan berkata, “Umar, itu membatalkan salatku. Kamu masih ingat akan urusan duniawi!” Hal itu kerap terjadi, hingga akhirnya KH. Umar dapat melaksanakan salat menghadap Allah dengan khusyuk. Kemudian, mereka berdua mencapai maqam auliya’ (derajat kewalian), karena sama-sama terlihat kemuliaannya dalam beribadah kepada Allah swt.

Selain itu, sikap sangat menghormati dan menghargai ulama lain juga tampak, terbukti sewaktu cicit beliau (Syaikhina Maimoen Zubair) lahir, beliau meminta berkah doa kepada KH. Faqih Maskumambang (salah satu murid Syaikh Muhammad Mahfudz Termas), agar kelak cicitnya menjadi orang yang faqih dalam ilmu agama dan pandai ilmu takwil. Demikianlah akhlak para ulama salaf terdahulu, mereka saling menghormati dan meminta berkah doa satu sama lain.

Kh. Syu’aib Dan Makam Sarah

Beliau masyhur sebagai ahli wirid dan dapat menemukan makam-makam auliya’ yang sebelumnya tidak diketahui oleh khalayak umum. Konon, dahulu ada sesosok jenazah yang terdampar di pinggir pantai. Namun anehnya, jenazah tersebut tidak bisa dipindahkan karena terasa berat untuk diangkat, hingga akhirnya masyarakat berkumpul dan bergotong royong untuk mengangkat jenazah tersebut bersama-sama.

Setelah jenazah itu terangkat, mereka lalu memakamkannya di dekat pesisir pantai. Mereka menamakan makam itu dengan nama Makam Sarah (yang berarti kayu besar). Setelah pemakaman usai, masyarakat bertamu kepada KH. Syu’aib, menceritakan hal aneh tadi, serta menanyakan siapa sebenarnya nama dari jenazah yang telah dimakamkan itu. Atas izin Allah swt., akhirnya KH. Syu’aib dapat mengetahui namanya seusai melakukan salat istikharah. Jenazah itu bernama As-Sayyid Abdulloh bin Abdul Aziz Al-Hadhramy (Hadramaut, Yaman).

Selain Makam Sarah, seperti yang dituturkan Syaikhina Maimoen Zubair, terdapat beberapa makam lain yang beliau ungkap, yaitu Makam Setumbun, Makam Mbah Sholeh Perak, Makam Mbah Hamim (yang berada di dalam Pondok MUS), dan Makam KH. Abdulloh Sajad (Belitung).

Jasa-Jasa Besar

Kelebihan lain yang dimiliki KH. Syu’aib yaitu sangat telaten dalam membelajari dan mendidik putra-putrinya. Tidak mengherankan pula jika akhirnya Pondok Pesantren Karangmangu berkembang dan mengalami banyak kemajuan pesat, sehingga area pondok yang semula hanya ada di sebelah utara jalan raya (dahulu dikenal dengan istilah Pondok Lor, sekarang Pondok MIS), diperluas dengan mendirikan bangunan pondok di sisi selatan jalan (dahulu dikenal dengan istilah Pondok Kidul, sekarang Pondok MUS). Untuk memaksimalkan pengawasan terhadap santri-santri yang menetap dan menimba ilmu kala itu, masing-masing area kompleks pesantren diasuh oleh beberapa masyayikh.

Dengan rincian, Pondok Lor yang terdiri atas kompleks A-B-C-H dan G diasuh oleh KH. Imam Kholil bin KH. Syu’aib (sekarang menjadi Pondok MIS); kompleks E diasuh oleh KH. Abdulloh, menantu KH. Syu’aib (sekarang menjadi Pondok PMH); dan kompleks D (Pondok Kidul) diasuh oleh KH. Ahmad bin KH. Syu’aib (sekarang menjadi Pondok MUS).

Membangun Rumah Tangga

Sekembalinya dari Kajen, KH. Syu’aib menetap di Sarang dan menikah dengan putri gurunya sendiri, bernama Nyai Sa’idah, anak pertama KH. Ghozali. Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai oleh Allah swt. beberapa anak, putra dan putri. Namun, hanya empat yang hidup sampai menginjak usia dewasa, yaitu:

1. Nyai Hj. Hasanah (istri KH. Dahlan)
2. Nyai Hj. Zubaidah (istri KH. Abdulloh)
3. KH. Ahmad bin Syu’aib
4. KH. Imam Kholil bin Syu’aib

Selama menjadi menantu KH. Ghozali, KH. Syu’aib ikut membantu perjuangan dakwah gurunya dengan mengajar di pesantren KH. Ghozali. Maka wajar saja, sepeninggal KH. Fathurrahman, beliaulah yang mengemban amanat menggantikan posisinya dan meneruskan dakwahnya sebagai pengasuh Pesantren Sarang.

Kecintaan beliau kepada para ulama dan orang-orang saleh amat mendalam. Meskipun telah menjadi ulama atau panutan masyarakat, KH. Syu’aib tak pernah sungkan mengajak kawan-kawannya untuk senantiasa belajar. Mereka bersama-sama mengikuti pengajian Kitab Ihya’ Ulumiddin kepada ulama lainnya, seperti KH. Murtadho bin Muntaha Sarang, padahal jika dilihat dari tanggal kelahirannya, KH. Murtadho lebih muda daripada KH. Syu’aib. Keikhlasan dalam mencari ilmu dan tidak pernah merasa malu walau mengaji kepada yang lebih muda menjadi faktor utama KH. Syu’aib dapat berlaku demikian. Keistikamahan beliau untuk mengaji terbukti hingga sang guru, yaitu KH. Murtadho, wafat pada tahun 1340 H.

Berpulang Ke Rahmatullah

Sungguh besar jasa KH. Syu’aib terhadap perkembangan pendidikan di Pesantren Karangmangu. Dengan keilmuan dan kewibawaannya, beliau sanggup “menyulap” Karangmangu menjadi ikon kawasan pendidikan pada saat itu. Hingga akhirnya, beliau berpulang ke rahmatullah pada bulan Sya’ban tahun 1358 H., dalam usia sekitar 95 tahun (tahun hijriah), dan dimakamkan di kompleks pemakaman masyayikh PP. MUS, Makam Serut. Semoga Allah melapangkan tempat untuk beliau di sisi-Nya dan senantiasa memberikan rahmat-Nya. Aamiin.