ppmus.id

©
Lurus dan Aktual

Menu

KH. Abdul Jalil Bin Ahmad

Masyhur dengan nama Abdul Jalil. Kiai yang satu ini merupakan kiai yang alim, hanya saja beliau ini mastur (tertutup). Terkenal dengan khariqah al-‘adahnya.

Seringkali di Pondok MUS yang sebelah timur, jika ada para santri putri lewat hendak sekolah maupun musyawarah, beliau KH. Jalil mbede’i (menguji) mereka dengan pertanyaan seputar bait-bait al-Fiyah Ibn Malik sembari menirukan jika mereka menjawab. Ini juga menandakan daya ingat beliau yang luar biasa, seperti jika ada santri-santri yang sedang takrarul mahfuzhat alfiyah (mengulang hafalan) di pondok, beliau pun juga mengikutinya. Selain itu, beliau juga banyak mengaji dengan para Masyayikh Sarang, seperti kepada KH. Ahmad.

Kelahiran dan Masa Kecil

Nama asli beliau adalah Abdul Jalil. Setelah beliau pulang dari melaksanakan ibadah haji, namanya diubah menjadi Abdul Fattah, sebagaimana terdapat dalam dokumen kependudukan yang dituturkan oleh perangkat desa yaitu Modin Masrur kepada KH. Adib Abdurrochim.

Lahir di Sarang pada tahun 1922 M. Beliau adalah anak kedua dari pasangan KH. Ahmad dengan Ny. Hj. Khodijah. Semasa kecil, KH. Jalil belajar kepada ayahnya (KH. Ahmad bin Syu’aib) dan KH. Zubair Dahlan. Hingga akhirnya, beliau menjadi pemuda yang ‘alim dan menguasai beberapa fan ilmu.

KH. Jalil juga menyempatkan diri pergi ke Haramain untuk menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan rombongan KH. Ahmad, yang diantaranya juga adalah Syaikhuna Maimoen Zubair, KH. Abdurrochim dan yang lainnya.

Sufi yang Berwawasan

KH. Kholid Suyuthi bercerita bahwa sebelum mondok di Sarang, beliau pernah dikabari seseorang tentang sosok KH. Abdul Jalil sebagai kiai majdzub, sampai beliau tidak berani berjabat tangan kepada KH. Jalil. Beliau diberitahu bahwa KH. Jalil juga kerap kali menolak orang yang ingin mushafahah (jabat tangan) dengannya, karena KH. Jalil dapat mengetahui hakikat batin seseorang. Namun ketika KH. Kholid Suyuthi mondok di Sarang tahun 1977 M, ia memberanikan diri bersalaman dengan KH. Jalil dan beliau sangat senang karena ternyata KH. Jalil mau menyalaminya.

Meski masyhur sebagai kiai majdzub, KH. Jalil tetaplah sosok cerdas yang cinta dan haus akan ilmu pengetahuan. Ingatan beliau tetap tajam meski telah memasuki usia lanjut. Dalam usianya yang cukup sepuh, beliau masih hafal nazhm al-Fiyah ibn Malik. Seorang alumni yang namanya enggan disebut bercerita bahwa beliau secara tak sengaja pernah melihat langsung KH. Jalil sedang melalar alfiyah tanpa memegang kitab.

Beliau juga bercerita bahwa suatu ketika ada seorang kiai Sarang yang sedang mengajar para santri. Ketika tengah membacakan kitabnya, tiba-tiba KH. Jalil yang kebetulan sedang lewat di majlis itu mengingatkan bacaan yang salah secara spontan:

“Bacanya bukan begitu!”

Kemudian beliau pergi. Meski terbukti pandai dan cermat dalam ilmu agama, namun KH. Jalil tidak bersedia mengajar di Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyyah, madrasah wakafan ayahnya (KH. Ahmad).

Karomah KH. Abdul Jalil

Kadang-kadang dalam dunia keagamaan, memang bisa ditemukan hal-hal yang sifatnya irrasional (tidak masuk akal) namun bisa benar-benar terjadi. Apalagi bagi orang yang dekat dengan Allah ta’ala dan dianugerahi karomah. Demikian pula halnya apa yang terjadi pada KH. Jalil.

Suatu ketika, KH. Jalil sedang berada di kamar dengan pintu tertutup rapat. KH. Syamsul tak sengaja lewat di depan kamar dengan tanpa bersuara. Tiba-tiba KH. Jalil berkata:

“Syamsul ya? Masuk! Masuk!”

“Iya Mbah,” jawab KH. Syamsul heran dan ia langsung masuk ke kamar menemui KH. Jalil. Beliau juga pernah mengalami hal yang sama ketika KH. Abdurrochim berada dalam kamar dan memanggilnya. Padahal pintu dalam keadaan tertutup dan bahkan ia sendiri tidak tahu bahwa KH. Abdurrochim sedang ada di dalam.

Sengaja Memberi Uang

Pak Kasran Sarang pernah diberi uang KH. Jalil Rp.500-. Lalu KH. Jalil berpesan kepadanya agar uang itu hanya dibelanjakan untuk membeli paku. Tanpa bertanya, Pak Kasran menerima dan menyimpan uang pemberian KH. Jalil. Ternyata selang beberapa hari, rumah Pak Kasran terbakar, sehingga ia terpaksa membangun rumah baru dan membeli paku dengan uang pemberian KH. Jalil.

KH. Kholid Suyuthi bercerita bahwa ada seseorang yang dikasih uang oleh KH. Jalil. Beliau berkata, “Ini ku bantu!” Setelah menerimanya, lantas ia bertanya pada KH. Hamid (adik KH. Jalil yang juga dikenal jadzab) yang kebetulan sedang lewat. KH. Hamid menyuruhnya untuk menyimpannya baik-baik. Ternyata selang beberapa bulan, mobil orang tadi menabrak seorang tentara sampai meninggal di tempat kejadian. Hingga akhirnya uang pemberian KH. Jalil ia gunakan sebagai tambahan untuk membayar tunjangan kepada ahli warisnya.

KH. Jalil seakan mengetahui peristiwa apa yang kelak akan terjadi. Konon, ketika KH. Jalil sedang melintas di majlis (yang saat itu masih berbentuk mushalla kecil) tempat Syaikhuna Maimoen Zubair sedang mengajar para santri, KH. Jalil berhenti dan berkata bahwa kelak tempat ini akan menjadi pesantren besar. Dan ternyata kini hal itu terwujud dengan banyaknya ribuan santri yang menimba ilmu di Pesantren Al-Anwar rintisan Syaikhuna Maimoen Zubair.

Mendahului Rombongan

KH. Abdurrochim mengisahkan bahwa suatu ketika rombongan keluarga ndalem hendak menghadiri acara salah satu kerabatnya di Tuban dan mengajak KH. Jalil untuk ikut bersama rombongan. Tetapi KH. Jalil menolak ajakan itu dan memilih untuk berada di rumah. Anehnya, setelah rombongan keluarga ndalem tiba di lokasi, ternyata KH. Jalil sudah tiba di tempat itu lebih dulu. Sontak saja, para rombongan kaget dan terheran menyaksikan keanehan itu. Akhirnya mereka mengajak KH. Jalil untuk pulang bersama setelah acara usai.

Segayung Garam Tambak

Suatu saat sekitar tahun 1977 M. ketika waktu panen garam tiba yang hasilnya diperkirakan dapat mencapai ratusan ton, KH. Abdurrochim berniat menunaikan ibadah haji dengan hasil penjualan garam tersebut. Hingga akhirnya, ada dua pedagang besar bernama H. Damanhuri Tambakboyo dan Cino Ho yang mau memberi uang muka telebih dahulu agar kebagian hasil panenan garam KH. Abdurrochim.

Tambak garam yang begitu besar dan luas menjadi perbincangan segerombolan orang. Waktu itu, H. Maftuh Masyhudi Bajingjowo, A. Sukiman, dan orang-orang sedang berkumpul membicarakan tambak garam milik KH. Abdurrochim. Tiba-tiba KH. Abdul Jalil mendatangi mereka. Lalu H. Maftuh berceletuk bertanya kepada KH. Jalil, “Wah, garam KH. Him kok banyak ya?” Diluar dugaan, KH. Jalil malah menanggapi sebaliknya dengan berkata:

“Akih tapi mung sak bathok (banyak tapi cuma segayung).”

Tak disangka ketika garam yang kurang lebih 200 ton sudah dipanen dan ditaruh di gudang, tiba-tiba saja terlanda banjir besar hingga menenggelamkan seluruh ladang garam KH. Abdurrohim. Kejadian itu membuat KH. Abdurrochim harus mengembalikan uang muka kepada pemiliknya masing-masing. Allah berkehendak lain, H. Damanhuri Tambakboyo dan Cino Ho tidak mau menerima uang kembalian dari KH. Abdurrochim, sehingga dengan izin Allah akhirnya beliau beserta keluarga bisa menunaikan niat baiknya ke Baitullah untuk yang kedua kalinya pada tahun 1978 M.

Musim Panas Menanam Benih Padi

Salah satu santri menuturkan bahwa KH. Abdurrochim pernah berkisah, yaitu saat para petani ingin menanam benih padi, karena pada waktu itu hujan sudah mulai turun. KH. Abdurrochim pun ingin melakukan hal yang sama, akan tetapi anehnya kakak beliau, yaitu KH. Jalil justru melarangnya dengan mengatakan:

“Panas panas ngene kok nandur Wineh.” (panas panas seperti ini kok menanam benih).

Padahal pada waktu itu, musim turun hujan. Ternyata selang beberapa hari, hujan tak lagi turun bahkan cuaca cukup panas, hingga akhirnya benih-benih yang telah ditanam oleh para petani mati kepanasan.

Ada sebuah kisah lagi, yaitu suatu ketika KH. Jalil mengajak santrinya pergi menaiki bus mini ke arah barat, namun anehnya beliau menyetopnya menggunakan jalur kanan (jalur menuju arah timur). Santrinya pun bingung. Ternyata bus yang distop KH. Jalil dan santrinya tersebut sesampainya di Masjid Perak kehabisan penumpang, sehingga berbalik menuju ke arah barat seperti tujuan KH. Jalil dan santrinya.

Berpulang Ke Rahmatullah

Meski tidak berkenan mengajar, namun Mbah Jalil selalu mencurahkan waktunya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beliau tidaklah silau dengan gemerlap kesenangan dunia yang hanya sementara, sehingga wajar kalau beliau memilih untuk membujang hingga akhir hayatnya.

Ada peristiwa aneh dan mungkin ini termasuk bagian dari karomah yang dimiliki oleh KH. Abdul Jalil, yaitu pada saat wafatnya, yang memandikan jenazahnya dan menyaksikan secara langsung saat itu adalah KH. Muhammad Ainul Yaqin (Gus Mad), KH. Adib Abdurrochim, KH. Sa’id Abdurrochim, dan KH. Muhammad Najih Maimoen. Jenazah beliau tampak begitu bersih dan baik, yang dikatakan sebelumnya KH. Jalil pernah memiliki semacam penyakit kulit di bagian tubuh. Subhanallah, berkat kebersihan hatinya, Allah ta’ala pun membersihkan pula penyakit yang menderanya.

KH. Abdul Jalil wafat pada tahun 1999 M dalam usia 77 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Serut. Semoga Allah selalu mencurahkan segala rahmat dan memberikan maghfirah kepadanya. Âmîn.

Al-Fatihah…


Editor: Achmad Fitrul Faizin

statObserver.observe(stat); // Pasang pengawas ke setiap kotak statistik }); }