Cinta Karena Allah: Makna dan Perbedaannya dengan Cinta Karena Duniawi Intisari Petuah Imam Ghazali Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
“Setiap manusia merasa tenteram dengan orang yang serupa dengannya, sebagaimana setiap burung terbang bersama jenisnya. Jika dua orang bersahabat dalam waktu yang lama namun tidak memiliki kesesuaian tabiat, maka pada akhirnya mereka akan berpisah.”
Persahabatan bisa terjadi secara kebetulan atau karena keadaan tertentu, seperti karena bertetangga, belajar di tempat yang sama, bersekolah bersama, berdagang di pasar yang sama, berada di lingkungan penguasa yang sama, atau bepergian bersama. Dan Persahabatan bisa lahir dari pilihan dan kehendak sendiri. Persaudaraan dalam agama termasuk dalam jenis ini. Sebab tidak ada pahala kecuali atas perbuatan yang dilakukan dengan pilihan sendiri.
Persahabatan pada hakikatnya berarti duduk bersama dan berdekatan. Seseorang tidak akan sengaja memilih kebersamaan dengan orang lain kecuali jika ia mencintainya. Orang yang tidak dicintai akan dijauhi dan dihindari, sedangkan orang yang dicintai akan dicari kebersamaannya.
Terdapat empat bagian mencintai seseorang;
1. Mencintai seseorang karena diri seseorang itu sendiri,
Hal ini lumrah terjadi. Engkau merasa senang melihatnya, mengenalnya, dan menyaksikan akhlaknya karena engkau memandangnya baik dan indah. Setiap sesuatu yang indah terasa nikmat bagi orang yang mampu menangkap keindahannya, dan setiap yang nikmat pasti dicintai. Kenikmatan muncul dari penilaian baik, sedangkan penilaian baik muncul dari adanya kesesuaian, kecocokan, dan keselarasan tabiat. Sesuatu yang dianggap baik itu terkadang berupa bentuk lahiriah, yaitu ketampanan atau keindahan rupa. Terkadang pula berupa bentuk batiniah, yaitu kesempurnaan akal dan baiknya akhlak. Dari akhlak yang baik lahirlah perbuatan-perbuatan yang baik. Dari kesempurnaan akal lahirlah keluasan ilmu. Semua itu dipandang baik oleh tabiat yang sehat dan akal yang lurus. Setiap yang dipandang baik akan memberikan kenikmatan dan karena itu dicintai.
Sebagian Ahli Hikmah berkata;
كل إنسان يأنس إلى شكله كما أن كل طير يطير مع جنسه وإذا اصطحب اثنان برهة من زمان ولم يتشاكلا في الحال فلا بد أن يتفرقا
“Setiap manusia merasa tenteram dengan orang yang serupa dengannya, sebagaimana setiap burung terbang bersama jenisnya. Jika dua orang bersahabat dalam waktu yang lama namun tidak memiliki kesesuaian tabiat, maka pada akhirnya mereka akan berpisah.”
Cinta seperti ini tidak termasuk cinta karena Allah, melainkan cinta yang lahir dari tabiat dan keinginan jiwa. Bahkan orang yang tidak beriman kepada Allah pun dapat merasakannya. Namun jika cinta itu dihubungkan dengan tujuan yang tercela, maka ia menjadi tercela. Misalnya mencintai wajah yang cantik untuk memuaskan syahwat yang haram. Adapun jika tidak disertai tujuan yang tercela, maka hukumnya diperbolehkan; tidak dipuji dan tidak pula dicela.
2. Mencintai Seseorang Sebagai Sarana Menuju Tujuan Lain.
Yaitu seseorang mencintai orang lain bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena ia menjadi sarana untuk memperoleh sesuatu yang dicintainya. Sarana menuju sesuatu yang dicintai juga ikut dicintai. Namun hakikatnya, yang dicintai adalah tujuan akhirnya. Karena itu manusia mencintai emas dan perak, padahal keduanya tidak dapat dimakan ataupun dipakai sebagai pakaian. Keduanya dicintai karena merupakan sarana untuk memperoleh berbagai hal yang diinginkan. Demikian pula seseorang dapat mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai emas dan perak, yaitu karena orang tersebut menjadi sarana untuk mencapai tujuan tertentu seperti memperoleh kedudukan, harta, atau ilmu.
Misalnya seseorang mencintai seorang penguasa karena ingin memperoleh harta atau pengaruh darinya. Atau ia mencintai orang-orang dekat penguasa itu karena mereka dapat memperbaiki kedudukannya di hadapan sang penguasa. Jika manfaat yang dicari dari orang tersebut hanya terbatas pada urusan dunia, maka cinta itu bukan termasuk cinta karena Allah. Demikian pula seorang murid yang mencintai gurunya hanya karena ingin mendapatkan ilmu untuk kepentingan dunia, seperti memperoleh jabatan, kekayaan, atau penerimaan masyarakat. Dalam keadaan ini, yang sebenarnya dicintai adalah kedudukan dan penerimaan masyarakat. Ilmu hanyalah sarana menuju keduanya, dan guru hanyalah sarana menuju ilmu. Maka semua itu bukan termasuk cinta karena Allah, sebab orang yang tidak beriman kepada Allah pun dapat memiliki cinta semacam itu.
Jenis cinta ini juga terbagi menjadi dua; Jika tujuannya untuk mencapai hal-hal yang tercela, seperti menindas sesama, merampas harta anak yatim, atau menzalimi rakyat melalui jabatan hakim dan sejenisnya, maka cintanya juga tercela. Dan Jika tujuannya untuk mencapai hal yang mubah, maka cintanya pun mubah. Karena sarana selalu mengikuti hukum tujuan yang hendak dicapai melaluinya.
3. Mencintai Seseorang Demi Manfaat Akhirat
Yaitu seseorang mencintai orang lain bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena manfaat yang diperoleh darinya berkaitan dengan akhirat, bukan dengan kepentingan dunia.
Seseorang yang bersedekah dengan hartanya karena Allah, mengundang tamu, dan menyediakan makanan yang baik untuk mendekatkan diri kepada Allah, lalu ia mencintai seorang juru masak karena kepandaiannya memasak sehingga membantu tujuan ibadah tersebut, maka cintanya kepada juru masak itu termasuk cinta karena Allah. Dan jika ia mencintai orang yang membantu menyalurkan sedekah kepada mereka yang berhak menerimanya, maka itu juga termasuk cinta karena Allah. Dan jika seseorang mencintai orang yang membantunya mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan memasak makanannya, sehingga ia memiliki waktu luang untuk menuntut ilmu dan beribadah, maka cintanya kepada orang tersebut termasuk cinta karena Allah.
Begitu juga, jika ia mencintai seseorang yang menanggung kebutuhan hidupnya, memberinya pakaian, makanan, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan dunia lainnya, sementara tujuan akhirnya adalah agar ia dapat berkonsentrasi pada ilmu dan amal yang mendekatkannya kepada Allah, maka kecintaan itu juga termasuk cinta karena Allah.
Bahkan jika seseorang yang menikahi wanita salehah agar terjaga dari godaan setan, agar agamanya terlindungi, atau agar memperoleh keturunan saleh yang akan mendoakannya, lalu ia mencintai istrinya karena istrinya menjadi sarana untuk mencapai tujuan-tujuan agama tersebut, maka ia termasuk orang yang mencintai karena Allah. Karena itulah terdapat banyak hadis yang menjelaskan besarnya pahala menafkahi keluarga, bahkan hingga suapan makanan yang diberikan seorang suami ke mulut istrinya.
Bahkan Beliau menegaskan,
نقول كل من استهتر بحب الله وحب رضاه وحب لقائه في الدار الآخرة فإذا أحب غيره كان محباً في الله لأنه لا يتصور أن يحب شيئاً إلا لمناسبته لما هو محبوب عنده وهو رضا الله عز وجل بل أزيد على هذا وأقول إذا اجتمع في قلبه محبتان محبة الله ومحبة الدنيا واجتمع في شخص واحد المعنيان جميعاً حتى صلح لأن يتوسل به إلى الله وإلى الدنيا فإذا أحبه لصلاحه للأمرين فهو من المحبين في الله
“Kita katakan bahwa siapa saja yang hatinya telah dipenuhi oleh cinta kepada Allah, cinta kepada keridaan-Nya, dan cinta untuk berjumpa dengan-Nya di akhirat, maka apabila ia mencintai selain Allah, cintanya itu termasuk cinta karena Allah. Sebab tidak mungkin ia mencintai sesuatu kecuali karena adanya hubungan dan kesesuaian dengan sesuatu yang telah menjadi kecintaan utamanya, yaitu keridaan Allah Yang Mahamulia.
Bahkan aku bisa mengatakan “Jika dalam hati seseorang berkumpul dua macam kecintaan, yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada dunia, lalu pada diri seseorang terdapat dua sisi yang menjadikannya sarana untuk memperoleh keduanya yakni dunia dan akhirat, kemudian ia mencintainya karena kedua sisi tersebut, maka ia tetap termasuk orang yang mencintai karena Allah.”
4. Mencintai Karena Allah dan Di Dalam Allah.
Yaitu seseorang mencintai karena Allah dan di dalam Allah, bukan untuk memperoleh ilmu atau amal darinya, dan bukan pula menjadikannya sebagai sarana menuju sesuatu di luar dirinya. Inilah tingkatan yang paling tinggi. Bagian ini juga mungkin terjadi sebab di antara pengaruh cinta yang sangat kuat ialah bahwa cinta itu menjalar dari orang yang dicintai kepada segala sesuatu yang berhubungan dengannya dan memiliki keterkaitan dengannya, meskipun dari jauh. Barang siapa mencintai seseorang dengan cinta yang sangat kuat, ia akan mencintai orang yang mencintai orang tersebut, mencintai orang yang dicintai olehnya, mencintai orang yang melayani pelayannya, mencintai orang yang dipuji oleh orang yang dicintainya, dan mencintai orang yang bersegera mencari keridaan orang yang dicintainya.
Sebagaimana dikatakan oleh Majnun Bani Amir:
أمر على الديار ديار ليلى … أقبل ذا الجدار وذا الجدارا
وما حب الديار شغفن قلبي … ولكن حب من سكن الديارا
Aku melewati rumah-rumah, rumah-rumah Layla, Kucium dinding ini dan dinding itu.
Bukanlah cinta kepada rumah-rumah itu yang memenuhi hatiku, Tetapi cinta kepada orang yang menghuni rumah-rumah itu.
Demikian pula cinta kepada Allah. Apabila cinta kepada-Nya menjadi kuat, menguasai hati, mendominasi jiwa, dan mencapai derajat keterpesonaan yang sempurna, maka cinta itu akan menjalar kepada setiap makhluk selain-Nya. Sebab seluruh makhluk selain Allah adalah jejak dari kekuasaan-Nya.
Terkadang cinta begitu kuat sehingga tidak tersisa bagi diri seseorang kepentingan apa pun selain apa yang menjadi kepentingan orang yang dicintainya.
Sebagaimana ungkapan seorang penyair:
أريد وصاله ويريد هجري … فأترك ما أريد لما يريد
Aku menginginkan perjumpaan dengannya, sedangkan ia menginginkan perpisahan. Maka aku tinggalkan apa yang kuinginkan demi apa yang ia inginkan.
Dari uraian ini, bahwa persahabatan dan kecintaan kepada seseorang memiliki tingkatan dan motivasi yang berbeda-beda. Ada cinta yang lahir karena kecocokan tabiat dan keindahan pribadi, ada yang muncul karena seseorang menjadi sarana mencapai tujuan duniawi, ada yang didasari manfaat akhirat sehingga termasuk cinta karena Allah, dan ada pula tingkatan tertinggi yaitu mencintai seseorang semata-mata karena Allah dan segala hal yang berkaitan dengan-Nya. Semakin kuat cinta seseorang kepada Allah, semakin luas pula kecintaannya kepada orang-orang yang membantu, mendukung, dan dekat dengan jalan yang diridai-Nya.
Karena itu, nilai suatu persahabatan tidak hanya ditentukan oleh kedekatan atau manfaat yang diperoleh, tetapi terutama oleh tujuan yang melandasinya. Semakin berorientasi kepada keridaan Allah, semakin tinggi dan mulia derajat persahabatan tersebut.
Oleh : Shohihul Humam