Dulu, Ahlussunnah itu Tidak Ada
Teringat masa keemasan dimana umat islam masih satu circle dalam keyakinan (teologi) dan amaliyah keagamaan. Semua terasa damai dan tentram di bawah tangan dingin Rasulullah Saw. Sosok mua’llim dan murabbi para generasi terbaik setelah beliau, yaitu para sahabat Rasulullah. Tiada konflik, kontradiksi atau distorsi teologi yang dianut oleh para sahabat karena semua itu bisa dilerai atau ditanyakan kepada Rasulullah secara langsung. Maka dari itu mereka bisa satu pandangan teologis. Allah pun turut membimbing mereka dalam salah satu firman-Nya:
Menjelang wafatnya Rasullah Saw, beliau memberikan nasehat yang mungkin mengguncangkan hati para sahabat yang selama ini merasa aman dan nyaman bersama Rasulullah Saw. :
Seakan Rasulullah memberikan sinyal akan sebuah bencana besar yang merongrong dalam tubuh Islam. Sampai-sampai memberikan ultimatum secara langsung untuk berpegang pada sunnahnya dan sunnah khulafaur rasyidin (para penggantinya). Bahkan mengisyaratkan untuk menggigit dengan gigi geraham karena saking beratnya cobaan yang akan mereka hadapi.
Setelah Rasulullah wafat, fase baru dimulai, tampuk kepemimpinan beralih ke pundak Sayyidina Abu Bakar, kemudian Umar bin Khattab. Di masa ini perbedaan akidah dan hukum belum begitu tampak. Hanya segelintir saja yang bersilang pendapat dengan sahabat yang lain. Itu pun tidak terlalu berarti karena tidak berpijak pada tendensi yang valid.
Ketika Umar bin khattab Wafat pada tahun 23 Hijriyah, Khilafah pindah ke pundak Sayyidina Utsman bin Affan berdasarkan hasil rundingan kelompok yang sudah dibentuk Umar sebelumnya. Pada masa ini, konflik antar kaum muslimin semakin nyata. Fitnah dikobarkan hingga membentuk propaganda yang berujung pada pengepungan sang khalifah. Tiga orang berhasil memasuki rumah Usman bin Affan dan memenggal kepalanya di tempat di mana beliau bersimpuh membaca mushaf.
Setelah terbunuhnya Sayyidina Usman, mau tidak mau harus ada yang menggantikan menjadi khalifah. Akhirnya, setelah melalui mediasi dan perundingan Sayyidah Ali bin Abi Thallib dibaiat. Sayangnya, konflik dan perpecahan yang sudah terjadi sebelumnya semakin menjadi. Ini disebabkan karena pada akhir pemerintahan Usman kaum muslimin terpecah menjadi 3 golongan pertama; kelompok yang menolak pembaiatan Ali bin Abi Thalib. Kedua; Kelompok yang mendukung pembaiatan Ali. Ketiga: Kelompok netral; tidak menentang dan tidak juga mendukung.
Kelompok yang tidak menerima baiat Sayyidina Ali yang dipimpin Muawiyyah bin Abu Sufyan tak henti-hentinya menuntut qishas atas terbunuhnya Sayyidina Ustman. Hingga menyeru kaum muslimin supaya mendukung mereka menะตgakkะฐn keadilan. Otomatis gerakan ini memicu perseteruan yang berkepanjangan dan berakhir pada perang Siffin. Hampir Saja pihak Ali memenangkan pertempuran, namun dengan siasat Amru bin Ash (dalam pihak Muawiyah) mampu menghindari kekalahan dengan menawarkan Tahkim. Keputusan tahkim berakhir dengan pelengseran Ali dan pengangkatan Muawiyah sebagai khalifah yang baru.
Peristiwa tahkim sebelumnya, sangat membekas kekecewaan yang mendalam bagi pendukung Ali, hingga sebagian dari mereka keluar dan beralih memusuhi beliau. Dari sini, timbullah dua kelompok besar, Syiah yaitu kelompok yang pro kepada Ali dan Khawarij yaitu kelompok yang keluar dari pembelaan terhadap Ali. Masing-masing kelompok menyeru kepada orang-orang agar mengikuti pendapat dan mazhabnya. Seiring berjalannya waktu, Sekte keagamaan tersebut terpecah menjadi beberapa kelompok lagi. Kala itu tercatat bahwa khawarij mencapai 8 kelompok. Sedangkan Syiah mencapai 5 kelompok.
Ketika qurun Tabiโin hampir berakhir, muncul sebuah kelompok yang menamakan diri mereka sebagai ahlu al-ahli wa al-tauhid atau akrab dengan nama Muโtazilah.
Kelompok ini pun tak ubahnya terpecah lagi mencapai 18 kelompok. Salah satu diantaranya adalah Jubaiyyah yang didirikan oleh Abi Ali Muhammad bin Abdul Wahhab al-Jubaโi atau lebih dikenal dengan nama Al-Juba’i.
Disaat sekte sesat menyelimut qurun Tabiโit Tabi’in dengan berbagai variannya, entah itu Muโtazilah, Syiah atau Khawarij, Abu Hasan al-Asyari yang menjadi anak tiri Abu Ali al-Juba’i dan berkelut pada Mazhab Muโtazilah selama puluhan tahun, menyadari akan kekeliruan iโtiqad yang dianut oleh Mazhab Muโtazilah. Akhirnya beliau keluar dari Mu’tazilah dan mengkoreksi i’tiqad yang salah dan membenarkannya sesuai dengan tuntutan Rasulullah dan sahabatnya. Sejak saat itulah muncul nama Ahlussunnah wal Jamaah yaitu orang yang selalu mengikuti sunnah nabi Muhammad saw dan sahabatnya dalam segi Aqaid diniyyah, Amal badaniyyah dan Akhlaq qolbiyyah. Mereka inilah yang berada pada manhaj yang benar.