PP MUS Sarang
CIKAL BAKAL PP. MUS SARANG
(Awal Didirikan Pondok Sarang Hingga Menjadi Pondok Mandiri dan Berkembang)
A. Sekilas Pandang Pondok Sarang
S
arang atau tepatnya desa Karangmangu termasuk daerah yang ramai akan para Ulama yang ahli dalam mendidik dan mengajar ilmu syariat dengan haluan akidah ahlus sunnah wal jama’ah. Asal muasal pendidikan Islam di Sarang bermula dari salah seorang putra bangsawan dan pejuang dari Madura yang bernama “Maulana”.
Tokoh yang kerap disapa “Mbah Lanah” ini merupakan salah satu pejuang dari pasukan Pangeran Diponegoro guna membersihkan tanah Jawa dari cengkraman para penjajah. Kalahnya pasukan Pangeran Dipanegoro dari tentara Belanda menjadikan Mbah Lanah mengalihkan dakwahnya yang berbentuk perang menjadi dakwah pendidikan agama. Pada masa itu, Mbah Lanah hijrah dari tanah Madura menuju Sarang. Sesampainya di Sarang, beliau dengan telaten mengawali kiprahnya dengan mengajarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat setempat. Pondok pesantren yang ada di Sarang saat ini diibaratkan hasil dari bibit perjuangan Mbah Lanah.
B. Perintisan Pondok Pesantren
Perjuangan Mbah Lanah dilanjutkan oleh putra sulungnya, yakni KH. Ghozali bin Lanah. Sama seperti ayahnya, KH. Ghozali atau yang disapa “Mbah Ghozali” juga semangat dalam menimba ilmu, mengamalkan dan menyebarkannya di tengah masyarakat. Sejak kecil kegigihan beliau dibuktikan dengan semangatnya mondok di berbagai pesantren, seperti pesantren Belitung asuhan Kiyai Mursyidin guna mendalami fan nahwu, dan pesantren Makam Agung asuhan Kiyai Ma’ruf guna mendalami fan Fiqih.
Pada masa mudanya, Mbah Ghozali pernah melaksanakan haji dengan waktu tempuh perjalanan tujuh bulan. Setibanya di Makkah, para jemaah haji telah melaksanakan wuquf di Arafah, akhirnya pelaksanaan haji beliau diundur hingga tahun depan. Kesempatan tinggal di Makkah selama satu tahun itu beliau gunakan untuk menulis kitab-kitab besar seperti Tafsir Jalalain, Bulughul Marom, Fathul Mu’in dan lain sebagainya.
Sepulangnya dari Makkah, Mbah Ghozali memulai berdakwah. Beliau dikenal sebagai pendidik yang gigih hingga santri beliau menjadi semakin banyak. Keadaan ini menjadikan beliau berinisiatif mendirikan sebuah pondokan. Sekitar tahun 1800-an, Mbah Ghozali mulai membangun musholla yang berdampingan dengan kamar santri yang merupakan cikal bakal dari Masjid Jami’ MIS dan PP. MIS. Bangunan itu dibangun di atas tanah wakafan dari dermawan bernama “Mbah Saman”.
C. Tongkat Estafet Kepengasuhan Pondok
Kepengasuhan pondok pesantren Sarang pada periode pertama dipegang langsung oleh pendirinya sendiri yakni KH. Ghozali bin Lanah, sejak tahun 1810-an hingga beliau wafat tahun 1859 M. Setelah wafatnya Mbah Ghozali, tongkat kepengasuhan diemban oleh K. Umar bin Harun, sosok kiyai alim dan berwibawa yang merupakan keponakan sekaligus menantu Mbah Ghozali. Kepengasuhan ini dibantu oleh KH. Syu’aib bin Abdurrozaq. Pada saat itu, kepengasuhan pondok tidak langsung dialihkan kepada putra bungsu Mbah Ghozali yaitu KH. Fathurrohman, sebab beliau masih sangat muda. Barulah setelah Mbah Umar wafat, kepengasuhan diteruskan oleh KH. Fathurrohman.
Setelah KH. Fathurohman wafat pada tahun 1348 H / 1930 M di Makkah, kepengasuhan diteruskan oleh cucu dan cicit Mbah Ghozali termasuk KH. Zubair bin Dahlan dengan dipimpin KH. Achmad bin Syu’aib. Oleh karena itu dapat disimpulkan kepengasuhan pondok Sarang hingga KH. Zubair terbagi menjadi empat periode, sebagai berikut:
| Periode | Tahun | Pengasuh |
|---|---|---|
| I | 1810 – 1859 M | KH. Ghozali bin Lanah |
| II | 1860 – 1910 M |
|
| III | 1910 – 1930 M | KH. Fathurrohman bin Ghozali (w. 1348 H./1930 M.) |
| IV | 1930 – 1990 M |
|
Pada periode ke-empat, pondok berkembang menjadi dua komplek dan terpisah menjadi tiga pondok, yaitu MIS (Ma’hadul ‘Ilmi Asy-Syar’iy) asuhan KH. Imam Kholil bin Syuaib, MUS (Ma’hadul ‘Ulum asy-Syar’iyyah Sarang) asuhan KH. Achmad bin Syuaib, dan PMH (Pondok Mansya’ul Huda) asuhan KH. Abdullah bin Abdurrohman.
D. Era Kemandirian dan Perkembangan
Pemecahan pondok merupakan hasil ijtihad para pengasuh di saat itu yang lebih memilih mandiri secara kelembagaan sebagai bentuk pendewasaan. Perpecahan ini berbuah positif, dibuktikan dengan semakin bertambahnya santri dan lahirnya pondok-pondok baru dari bani Ghozali. Dulu, pengajian hanya menggunakan sistem bandongan. Setelah berkembang, didirikan pula lembaga formal madrasah, namun sistem ngaji bandongan dan halaqoh tetap menjadi pendidikan khas yang pokok di Sarang.
E. Kepengasuhan PP. MUS Sarang
PP. MUS didirikan secara mandiri oleh KH. Achmad bin KH. Syu’aib pada tahun 1928 M. Kepengasuhan beliau dibantu oleh keponakan sekaligus menantunya yakni KH. Zubair Dahlan. Kepengasuhan “Mbah Mad” diawali di “langgar peteng” PP. MUS Sarang, yang banyak melahirkan alumni mahir, termasuk Mbah Ma’shum Lasem. Beliau mengasuh pondok hingga wafat pada Rojab 1386 H / 1966 M.
Kepengasuhan kemudian dialihkan kepada putra bungsu beliau, KH. Abdurrochim bin Achmad (Mbah Chim). Mbah Chim adalah sosok alim, telaten, dan dermawan. Beliau dibantu oleh adik iparnya yaitu KH. Ma’ruf Zubair. Pada 6 Desember 2001 M, Mbah Chim berpulang setelah genap 35 tahun mengasuh pondok.
Setelah Mbah Chim wafat, kepengasuhan dilanjutkan oleh putra-putra beliau dan dibagi menjadi tiga agar lebih fokus dalam pembinaan:
-
✔️
KH. M. Sa’id Abdurrochim: Pengasuh PP. MUS Sarang Putra -
✔️
KH. M. Ahdal Abdurrochim: Pengasuh PP. Putri MUS I -
✔️
KH. M. Adib Abdurrochim: Pengasuh PP. Putri MUS II Li Hifdzil Qur’an (LQ). (Setelah beliau wafat tahun 2020, dilanjutkan oleh KH. M. Syu’aib Jalaluddin Ridhwanullah Adib).
F. Profil PP. MUS Sarang
PP. MUS Sarang merupakan pondok pesantren bertarekat ta’allum dan ta’lim, berupaya menghasilkan SDM yang paham syariat Islam secara dalam dan benar. PP. MUS Sarang menghadirkan program kegiatan terstruktur melalui berbagai departemen:
Dept. Ta’limul Maarif
Fokus pada peningkatan intelektual santri melalui program Ma Taqul, Bimbingan Belajar Sorogan (BBS), Muradat, Madras ‘Iadah, dll, untuk mengembangkan nalar dan memecahkan masalah.
Dept. Tarbiyyah, Tadib & Keamanan
Fokus pada penanaman karakter, kedisiplinan, dan nilai kebaikan. Kegiatannya meliputi Jama’ah Maktubah, Praktek Ubudiyyah, Qoilulah, hingga aturan Tutup Gerbang.
Dept. Majami’ ‘Ilmiyyah
Wadah pengembangan bakat dan kreativitas melalui Khitabah, Lajnah Bahtsul Masa’il (LBM), Majma’ Kawadir al-Muftin (MKM), dan jurnalistik Media Online/Cetak pondok.
Dept. Sarana Pra Sarana
Bertanggung jawab menciptakan lingkungan pesantren yang aman, bersih, dan mendukung agar santri dapat belajar dengan tenang dan nyaman.
“Melalui kegiatan, program, dan kebijakan yang ada, diharapkan Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah Sarang dapat mencetak insan yang pandai, shalih, dan anfa’ lin naas (bermanfaat bagi sesama).”