KH. Ahmad Bin Syuaib
Kelahiran
KH. Ahmad dilahirkan di Sarang pada awal abad ke-14, tepatnya pada tahun 1301 H/1883M. Beliau adalah putra kedua dari pasangan KH. Syu’aib dan Nyai Hj. Sa’idah. Beliau tumbuh dalam asuhan, kasih sayang, dan didikan kedua orang tuanya. Belajar qira’ah dan dasar-dasar ilmu agama pada sang ayah, yaitu KH. Syu’aib bin Abdurrozaq serta ulama Sarang lainnya, khususnya KH. Umar bin Harun dan KH. Murtadho bin Muntaha. Beliau sangat tekun dalam menuntut ilmu, selalu menyibukkan diri dengan beribadah di malam hari, berpuasa di siang hari, serta menjauhi segala godaan dan hawa nafsu.
Berkelana ke Makkah
Menginjak usia 20 tahun, KH. Ahmad muda bertolak ke Makkah dan menetap di sana selama dua tahun, yaitu mulai tahun 1322 H/1904 M sampai tahun 1324 H/1906 M. Di sana ia belajar kepada Masyayikh Haramain tentang ilmu-ilmu agama, di antaranya, ilmu Fikih, ushul, Tauhid, Qira’ah, Nahwu, Sharaf, dan fan lainnya. Ahmad muda juga pernah bermulazamah (menetap) pada al-‘Alim Sayyid Umar Syatha yang dikenal dengan nama Sayyid Syatha.
Di pertengahan masa belajar, KH. Ahmad muda pernah meminta restu pada gurunya (Sayyid Umar Syatha) untuk mengikuti bai’at tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Jabal Abi Qubais, Makkah. Namun sang guru tidak langsung merestuinya. Beliau berkata:
“Aku tidak melarangmu melakukan hal ini. Akan tetapi aku hanya menasehatimu untuk terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu sebelum melakukannya, khususnya tentang hal yang berhubungan dengan ilmu batin, dan ini adalah kitab ilmu batin, aku hadiahkan kepadamu.”
Sayyid Syatha akhirnya memberikannya dua buah kitab kecil, yaitu kitab al-Yawaqit al-Jawahir karya Abdul Wahab asy-Sya’rani dan kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah karya Imam Qusyairi. Sayyid Umar Syatha juga memberikan ijazah khusus kepadanya agar diamalkan setiap hari. Sehingga sebelum bai’at tarekat dilaksanakan, KH. Ahmad sudah pulang terlebih dahulu dengan membawa kedua kitab pemberian as-Sayyid Syatha.
Pulang ke Tanah Air
Setelah kembali ke kampung halaman, KH. Ahmad meneruskan belajar kepada para ulama Jawa. Beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Tebuireng Jombang dan bermulazamah pada Hadhratusysyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi Nahdhatul Ulama selama dua tahun. KH. Hasyim Asy’ari sangat memperhatikan perkembangan beliau dengan memberi petuah-petuah melebihi teman-temannya. Kesempatan itu beliau manfaatkan untuk meminta kepada gurunya agar bersedia memuqabalah (studi banding) kitab-kitab yang telah beliau baca kepada para ulama Makkah al-Mukarramah, khususnya Syaikh Mahfudz Termas.
Sewaktu mondok di Tebuireng, KH. Ahmad muda sempat akan dijodohkan oleh KH. Hasyim Asy’ari dengan seorang gadis yang terbilang masih keluarganya. Tetapi beliau ingin minta restu kepada orang tuanya terlebih dahulu. Setelah beliau pulang dan meminta restu untuk menikah, ternyata ayahanda tidak merestuinya, sehingga beliau tidak jadi menikah dengan wanita pilihan Mbah Hasyim.
Pernikahan
KH. Ahmad bin Syu’aib mempersunting putri KH. Abdul Lathif dari daerah Lasem. Namun dari pernikahan itu, beliau tidak dikaruniai putra. Setelah tiga tahun berlalu, akhirnya beliau menceraikan istrinya. Dan kemudian menikah untuk yang kedua kalinya dengan mempersunting salah satu keturunan KH. Ma’ruf yang alim dan terkenal, yaitu Nyai Hj. Khodijah binti Nyai Maryam (istri H. Utsman Tuban) binti Ya’qub bin Ma’ruf bin Abdush Shamad bin Abdur Rafi’ bin Abdul Muhith (Mbah Jeladri) bin Badrul Jamal bin Bujug Sa’ud (mas’ud) bin ‘Amir bin Pengeran Sumedang (menantu Syaikh Syarif Hidayatullah). Dan dari pernikahan ini, beliau dikaruniai banyak anak, yaitu:
- Nyai Hj. Mahmudah (istri KH. Zubair Dahlan)
- KH. Abdul Jalil
- Nyai Hj. Hamidah (istri KH. Ridhwan)
- KH. Abdul Hamid
- Nyai Hj. Mahmadah (istri KH. Zubaidi Tuban)
- A. Shomad
- KH. Abdurrochim
Mereka inilah putra-putra KH. Ahmad yang sampai umur dewasa dan mempunyai keturunan kecuali A. Shomad yang meninggal waktu muda dan KH. Abdul Jalil yang tidak mempunyai putra. Di samping membesarkan putra-putrinya, beliau juga merawat Zubair kecil ketika ayahnya (KH. Dahlan) wafat.
Berdakwah di Kampung Halaman
Setelah kembali dan bermukim di Sarang, KH. Ahmad kemudian mengajar para santri di Pesantren Karangmangu. Di samping selalu beribadah sehingga doa-doanya pun sering terkabul (mujab ad-da’wah), beliau sangat tadharru’ kepada Allah SWT, khususnya di malam gelap gulita dan senantiasa berpuasa. Semenjak menetap di tanah kelahirannya, beliau selalu menyambung puasa bulan Rajab, Sya’ban dengan puasa Ramadhan kecuali satu tahun sebelum beliau wafat dikarenakan sakit parah yang diderita. Beliau tak pernah putus bertahajud tiap malam, terutama pada tiga bulan tersebut. Ketika bulan Ramadhan tiba, beliau mencurahkan waktunya untuk melakukan shalat sunah, shalat Tasbih dan dzikir-dzikir yang dianjurkan syariat (masyru’ah) tiap malam.
Meskipun selalu beribadah dan mengajar, KH. Ahmad masih sempat bekerja di bidang pertanian, perdagangan, dan industri. Beliau juga memprakarsa pembuat garam pertama kali di Sarang. Apa yang beliau dan keluarganya makan merupakan hasil keringatnya sendiri, sehingga hal yang demikian menjadi berkah dan sangat berdampak besar pada anak cucunya kelak. Beliau adalah insan yang dermawan dan berjiwa besar dalam meniti jalan kebaikan. Beliau jugalah yang mewaqafkan tanah untuk dijadikan sebuah Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah.
Bersama Keluarga Menuju Makkah
Pada tahun 1369 H. atau 1950 M. KH. Ahmad berkunjung ke Haramain, Makkah dan Madinah menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya dengan mengajak 6 orang, yang tidak lain adalah putra-putra dan cucunya. Semua biaya itu beliau hasilkan dari kerja keras dan barokah beliau, karena pada saat itu memang KH. Ahmad terkenal sebagai kiai yang kaya-raya. Keenam orang tersebut adalah:
- Nyai Hj. Khodijah (istri KH. Ahmad)
- KH. Abdul Jalil (putra)
- KH. Abdul Hamid (putra)
- KH. Abdurrochim (putra)
- Nyai Hj. Rofi’ah (istri KH. Abdul Hamid)
- Syaikhuna Maimoen Zubair (cucu dari saudari beliau)
Mereka bertujuh memulai perjalanan hajinya melalui jalur laut hingga membutuhkan waktu berbulan-bulan. Banyak lika-liku rintangan yang mereka hadapi saat mengarungi samudera. Hempasan angin dan badai mereka lalui dengan penuh sabar serta mengharap ridha Allah SWT dengan memenuhi panggilan-Nya. Konon, waktu itu sempat terjadi badai besar yang menghalau mereka selama mengarungi samudera. Namun atas izin dan pertolongan Allah mereka dapat melaluinya hingga akhirnya mereka semua dapat sampai di kota suci Makkah dengan selamat.
Setibanya di pelabuhan Jeddah, bukan berarti mereka lolos dari rintangan dan hambatan. Selama di Makkah lagi-lagi mereka mendapat rintangan berupa hujan salju. Namun hal itu tetap tidak menyurutkan niat mereka untuk menyempurnakan ibadah haji dengan menjalankan rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban secara sempurna.
Syaikhuna Maimoen Zubair mengisahkan bahwa zaman dahulu, jamaah haji di Makkah harus berkisar 600.000 jamaah, tidak boleh kurang atau lebih, seperti keterangan yang terdapat dalam karangan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Jika kurang, maka akan ditambahi oleh rijal al-ghaib (jamaah ghaib) sehingga menjadi genap berjumlah 600.000 jamaah. Dan jika lebih, maka akan banyak jamaah yang meninggal dunia. Namun pada tahun 1960 M, hal itu telah berubah, sehingga jumlah jamaah haji kian bertambah hingga sekarang mencapai jutaan orang.
Tepat pada musim haji tahun itu, jamaah haji yang terdata hanya berjumlah 580.000 Orang. KH. Ahmad mengetahui bahwa tahun ini akan ada sekitar 20.000 rijal al-ghaib yang akan menunaikan ibadah bersama jamaah haji. Sehingga KH. Ahmad sangat bersemangat dan giat untuk menunaikannya. Setiap pukul 10 malam, KH. Ahmad selalu pergi ke Masjid al-Haram untuk bertawaf, beri’tikaf, dan shalat malam disana dan kembali ke penginapan seusai jamaah Shubuh.
Karena malam itu Syaikhina Maimoen Zubair tidak ikut beliau ke Masjid al-Haram, sekembalinya dari jamaah shubuh, beliau langsung membangunkan Syaikhuna Maimoen Zubair dan bertanya:
KH. Ahmad: “Kenapa kamu tidak berjamaah?”
Syaikhuna Maimoen Zubair: “Mbah tiap malam pergi ke masjid?”
KH. Ahmad: “Iya Cung, Kamu rugi kalau tidak bangun. Tahun ini jamaah haji kurang 20.000 orang. Jadi akan ada banyak kejadian aneh. Kalau kamu tidak bangun, tidak akan tahu.”
Akhirnya KH. Ahmad berpesan pada Syaikhuna Maimoen Zubair agar ikut dengannya keluar malam jika ingin melihat orang-orang istimewa yang khariqah li al-adah (diluar nalar).
Kepergian Sang Murabbi
KH. Ahmad bin Syu’aib sempat mengalami sakit panas pada bulan Jumadal Ula menjelang hari wafatnya. Keadaan beliau terus menerus demikian sampai sakitnya menjadi parah pada hari kesepuluh bulan Rajab hingga akhirnya beliau wafat di kediaman beliau malam Selasa tanggal 22 Rajab 1386 H/1966 M dalam kisaran usia 85 tahun. Beliau dimakamkan di Makam Serut, utara Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya dengan luas dan mempertemukan beliau dengan orang-orang shalih di surga, âmîn ya rabbal ‘alamin.
KH. Ahmad pernah berkata kepada Syaikhuna Maimoen Zubair:
“Aku ingin menjadikan Makam Serut ramai.”
Saat itu, Makam Serut memang belum ramai di ziarahi seperti sekarang, dan semua yang di kubur di pemakaman serut berasal dari Sedayu, termasuk Mbah Yaman dan Mbah Saman.
Sepeninggal KH.Ahmad, estafet kepemimpinan beralih pada KH. Zubair Dahlan (menantunya). Setelah itu, KH. Abdurrrochim bersama kakaknya KH. Abdul Jalil menggantikan posisi beliau sebagai pengasuh PP. MUS. Dengan dibantu oleh adik iparnya, yakni KH. Ma’ruf Zubair. Mereka bertiga berjuang untuk menyebarluaskan syari’at Islam dengan menyiapkan kader-kader yang kelak akan menjadi panutan di daerahnya masing-masing.
Al-Fatihah…
Editor: Achmad Fitrul Faizin