ppmus.id

©
Lurus dan Aktual

Menu

KH. Zubair Dahlan

Ulama karismatik Jawa Tengah yang satu ini memiliki kepribadian yang mulia dan berbudi pekerti luhur, berkulit sawo matang dan berjenggot tipis. Penglihatannya yang tajam, membuatnya tampak lebih berwibawa. Dialah K.H. Zubair Dahlan, ulama yang sangat mencintai ilmu, selalu berpegang teguh pada sunnatullah dan berjuang di jalan Allah swt, melalui jalur pendidikan.

Kiai Zubair adalah tokoh yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat, khususnya para santri, dikarenakan kealimannya. Beliau merupakan salah satu pendiri Pesantren Ma’hadul Ulum Asy-Syar’iyyah (MUS) Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kiai Zubair juga merupakan teman seperjuangan tokoh pendiri NU, Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahab Chasbullah.

Masa Kecil yang Gemilang

Zubair Dahlan lahir dengan nama Anwar pada tahun 1905 M atau 1323 H di daerah pesisir pantai utara, tepatnya Desa Karangmangu, Sarang, Rembang. Beliau merupakan putra kedua dari pasangan Kiai Dahlan dan Ibu Nyai Hasanah. K.H. Zubair tumbuh besar dan mendapatkan bimbingan langsung dari ayahandanya.

Di masa kecilnya, beliau juga belajar membaca Al-Qur’an dan ilmu-ilmu dasar agama Islam kepada kakeknya, Kiai Syua’ib. Saat usianya masih enam tahun, beliau sudah dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar berdasarkan ilmu tajwid.

Kecerdasaran K.H. Zubair memang sudah dikenal oleh masyarakat sejak usianya masih belia. Beliau memiliki semangat yang tinggi dalam mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama. Di bawah bimbingan para kiai dan ustad setempat, berbagai macam disiplin ilmu agama telah dikajinya secara menyeluruh.

Tidak Menyia-nyiakan Waktu

Dalam mendalami ilmu agama, K.H. Zubair tidak hanya belajar di daerah kelahirannya. Pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan ini juga pergi ke tanah suci Makkah dan Madinah, Arab Saudi. Menginjak usia 17 tahun, beliau pergi ke kota tempat kelahiran Nabi Muhammad saw. bersama dengan kakek dan neneknya.

Sebelumnya, pamannya yang bernama Kiai Imam Kholil sudah bermukim di Haramain. Tiga tahun lamanya K.H. Zubair tinggal di kediaman pamannya. Selama di tanah suci, ia selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar.

Setelah itu, ia kembali ke tanah air ditemani oleh pamannya, Kiai Imam Kholil. Namun, beliau merasa pendalaman ilmu agamanya masih belum cukup. Kemudian, bertekad untuk terus belajar dan melanjutkan rihlah keilmuan. Meskipun beliau sudah termasuk tamatan Masjid Al-Haram Makkah, dirinya tidak sungkan untuk berguru kepada para alim ulama di sekitarnya.

Di bawah bimbingan Kiai Faqih, K.H. Zubair mempelajari berbagai bidang ilmu. Beberapa kitab dikuasainya secara tuntas, seperti Tafsir Jam’ul Jawami’ atau Syarah Ummul Barahin. Dari gurunya itu, ia juga sempat mendapatkan ijazah yang termaktub dalam kumpulan “Kifayatul Mustafid”.

Terjun ke Masyarakat

Setelah belajar kepada Kiai Faqih, Kiai Zubair Dahlan akhirnya mulai berperan sebagai pendakwah sekaligus pengajar di Pondok Pesantren Sarang. Saat itu, usianya masih cukup muda, belum genap 23 tahun. Akan tetapi, karisma dan kemampuannya sudah diakui banyak kalangan. Tak sedikit santri yang menimba ilmu atau meminta nasihat kepada beliau.

Sekitar satu tahun kemudian, Kiai Zubair menikah dengan Nyai Mahmudah binti Kiai Ahmad bin Kiai Syua’ib. Dari pernikahan tersebut, Kiai Zubair dikaruniai lima putra dan putri. Sayangnya, hampir semua keturunannya meninggal dunia pada masa kecilnya, hanya satu yang tumbuh besar, yaitu K.H. Maimoen Zubair. Putranya ini akhirnya dikenang sebagai seorang alim yang sangat dihormati sekaligus pendiri Pondok Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang. Selang berapa tahun kemudian, Nyai Mahmudah berpulang ke rahmatullah, tepatnya pada Jumadil Akhir 1358 H.

Seiring berjalannya waktu, Kiai Zubair menikah lagi. Kali ini, pasangannya bernama Aisyah binti Kiai Abdul Hadi. Pada pernikahan kedua itu, beliau dianugerahi lima orang putri dan seorang putra. Mereka adalah:

  • Halimah
  • Sai’dah
  • ‘Afifah
  • Sholihah
  • Salamah
  • Ma’ruf Zubair

Kiai yang Produktif

Ulama kelahiran Sarang, Rembang, Jawa Tengah, ini tercatat telah menulis berbagai macam kitab. Karya-karyanya mengulas tentang beragam topik keislaman, mulai dari ilmu gramatika arab, fikih, hadis, hingga tasawuf.

“Kiai Zubair Dahlan merupakan seorang kiai yang tajam pemikirannya, alim dalam dunia karang-mengarang dan ilmunya bagaikan samudra,”

— terang Kiai Sahal seperti yang dikutip dalam buku ‘K.H. Zubair Dahlan: Kontribusi Kiai Sarang untuk Nusantara dan Dunia Islam’.

Di tengah kesibukannya dalam mengajar, Kiai Zubair memang masih menyempatkan diri untuk mengarang beberapa kitab. Di antaranya adalah kitab Manasik Haji, Nazhm Risalah as-Samarqondiyah, dan Al-Qolaid fii Tahqiqi Ma’na Isti’aroh.

Selain produktif dalam hal menulis, Kiai Zubair Dahlan juga merupakan seorang ulama pejuang. Pada zaman revolusi, beliau turut mempertahankan wilayah pantai utara (pantura), Jawa Tengah dari gempuran Belanda, yang menyerang melalui Agresi Militer I dan II.

Wafatnya Sang Kiai Alim

Bulan Ramadhan pun tiba. Seperti biasa, beliau memanfaatkan waktu pada malam-malam Ramadhan dengan membaca kitab Tafsir Jalalain. Risalah tersebut merupakan kitab terakhir yang dibacanya sebelum beliau wafat. Tepat pada 10 Ramadhan, tiba-tiba Kiai Zubair mengalami sakit panas dan kondisinya semakin bertambah parah.

Sang ulama yang karismatik itu mengembuskan nafas terakhirnya pada malam selasa setelah maghrib, hari ke-15 bulan Ramadhan 1389 Hijiriah. K.H. Zubair Dahlan wafat dalam usia 65 tahun. Kepergiannya menyisakan duka yang mendalam bagi para muslimin, khususnya masyarakat yang berada di wilayah Rembang. Hingga kini, kiprahnya terus dikenang ribuan santri dan warga setempat.

Setiap tahun, makam beliau yang berlokasi di Simpek, Sarang, selalu ramai diziarahi, khususnya dalam momen peringatan haul K.H. Zubair Dahlan. Acara tersebut biasanya dilaksanakan setiap pertengahan bulan suci Ramadhan.

Al-Fatihah…….


Editor: Achmad Fitrul Faizin

statObserver.observe(stat); // Pasang pengawas ke setiap kotak statistik }); }