KH. Abdurrochim Ahmad
Kelahiran Dan Rihlah Ilmiah
KH Abdurrochim Ahmad, kiai kharismatik dari pesisir utara pulau Jawa yang akrab dipanggil para santri dengan Mbah Him, beliau lahir di Sarang pada tahun 1935 M di desa Karangmangu, Sarang, Rembang. Beliau adalah seorang tokoh yang sangat kharismatik, berwibawa, dan penuh dedikasi dalam hidupnya.
Sejak masa kecil beliau telah ditempa sebagai santri di lingkungan pesantren yang bernuansa agamis, hal itu membawa pengaruh kehidupan salaf bagi diri beliau melalui perantara pendidikan yang diajarkan ayahandanya KH. Ahmad bin Syu’aib, dan beberapa masyayikh Sarang. Setelah belajar dengan para masyaikh Sarang, selanjutnya beliau menyambung rihlah ilmiahnya ke pondok pesantren Ploso, Mojo, Kediri untuk ber-tafaqquh fid-din dengan KH. Jazuli Utsman selama 3 tahun. Setelah itu beliau kembali ke kampung halamannya untuk mengamalkan ilmu yang beliau dapatkan selama nyantri di Ploso.
Pada 1369 H, beliau berkesempatan diajak sang ayah untuk menunaikan ibadah haji bersama dengan lima orang lainnya. Setelah semua rangkaian ibadah haji selesai, beliau bersama dengan syaikhina KH. Maimoen Zubair meminta izin kepada sang ayah KH Ahmad untuk bermukim dan melanjutkan berta’alum di Makkah. KH. Ahmad akhirnya memberikan izin atas niat baik mereka berdua. Selama di Mekah, beliau berdua menimba ilmu di Madrasah Darul Ulum. Di antara guru-guru beliau selama di Makkah ialah Syaikh Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath, Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Qutbi, Syaikh ‘Abdul Qodir al-Mindili, dan Syaikh Yasin bin ‘Isa al-Fadani.
Kembali Ke Tanah Air Dan Meneruskan Perjuangan Ayahandanya
Setelah dua tahun ber-ta’alum di Makkah akhirnya beliau kembali ke kampung halamannya guna membagi dan menyebar luaskan ilmu yang telah beliau peroleh saat menimba ilmu di Mekah kepada para santri dan masyarakat luas. Saat KH. Ahmad masih menjadi pengasuh pondok, Mbah Him mulai ikut membantu sang ayah dalam mengajarkan ilmunya, hingga akhirnya ketika KH. Ahmad bin Syu’aib kembali ke rahmatullah, beliaulah yang menggantikan ayahandanya sebagai pengasuh dengan dibantu oleh kakak beliau KH. Abdul Jalil dan adik ipar beliau KH. Ma’ruf Zubair.
Dalam menyebarkan ilmu Mbah Him dikenal sebagai sosok yang istiqamah dalam kitab yang beliau ajarkan walaupun yang beliau ajarkan itu berupa kitab-kitab kecil. Kalau ba’da magrib beliau mengisi kegiatan dengan mengaji kitab Fathul-Qarib. Saat mengaji Fathul-Qorib keterangan yang beliau sampaikan sangat mudah dipahami dan terasa dijabarkan dengan jelas, luas, serta ungkapan yang berbeda. Sehingga ada salah satu santri setelah ngaji kitab Fathul-Qarib khatam, di tahun berikutnya ia kembali mengaji lagi dengan Mbah Him. Hal tersesebut dia lakukan selama delapan tahun lamanya.
Selain mengaji Fathul-Qarib beliau juga istiqamah dengan mengaji kitab Fathul-Mu’in, dan Fathul-Wahab, menurut beliau ketiga kitab itu merupakan kutubul-futuhat, dan beliau pernah berkata:
“Kalau ingin difutuh ilmunya harus bisa mengaji ketiga kitab ini yakni Fathul-Qarib, Fathul-Mu’in, dan Fathul-Wahhab.”
Beliau juga membacakan kitab selain fan fikih seperti Ihya’ Ulumid-din dan Shohih al-Bukhari, dan di bulan Ramadan beliau istiqamah membacakan kitab Tafsir al-Jalalain dan Dala’il al-Khoirot.
Sosok Yang Sosial Dan Berwibawa
Santri yang mengenal lebih dekat dengan beliau atau santri abdi ndalem, melihat sosok Mbah Him itu penuh kewibawaan, namun beliau juga terkadang terlihat santai, membaur, dan bercanda bersama para santri. Pernah sewaktu ketika Mbah Him mengikuti rapat dengan para masyayikh di madrasah, dan kalau beliau sudah mulai angkat bicara, tidak ada satu pun peserta rapat yang berani berbicara. Tapi waktu beliau kumpul bersama santri tetap bercanda, bersikap lembut, dan memberi kenyamanan bagi santri yang mendampingi beliau. Boleh jadi yang dilakukan Mbah Him meniru sosok Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang terkadang bersikap tegas, namun dalam banyak kesempatan beliau mengajak bercanda sahabatnya.
Jadi selama ini persepsi santri yang mengira bahwa beliau menakutkan, itu tidak bisa dibenarkan, dikatakan menakutkan ternyata sangat lembut dan dekat. Sosok beliau ini tercermin pada putranya yaitu alm KH. Adib Abdurrochim yang sebetulnya ramah terhadap setiap orang, bersopan santun, jika bersama beliau terasa dekat tapi memiliki wibawa yang sangat tinggi.
Beliau Merupakan Sosok Yang Humoris
Santri terdekatnya beliau yang merasakan bahwa Mbah Him itu sosok yang suka mengajak bercanda bareng. Saat Mbah Him pergi bersama di mobil pun santrinya diajak bercanda, sewaktu wiridan bersama juga pernah diajak bercanda, bahkan di sawah juga. Pernah sewaktu ketika Mbah Him pergi ke sawah bersama para santri, sesampainya di sawah saat bekerja ada santri yang tidak sadar sarungnya terbuka, dan itu kebetulan dilihat oleh Mbah Him, tiba tiba Mbah Him berteriak sambil menunjuk ke arah sarungnya:
Mbah Him: “Ulo-ulo!!” (ada ular-ular!)
Santri (kaget): “Pundi mbah ulone?” (dimana mbah ularnya?)
Mbah Him: “Iku ulone ngantil neng genmu kabeh.” (Itu ularnya masih menempel pada kalian semua).
Istikamah Dalam Membaca Wirid
Beliau adalah sosok yang istiqamah dalam menjalankan sesuatu, wiridan beliau tak pernah ditinggalkan. Setiap ba’da subuh beliau jalan-jalan ke madrasah sambil wiridan membawa tasbih, kalau sudah mulai cerah beliau kembali ke ndalem untuk membacakan kitab Ihya’ bersama santri-santrinya. Pada bulan Rajab beliau semakin memperbanyak wiridannya dan bila ada uzur (halangan) sehingga beliau tidak sempat membaca wiridan beliau tetap mengqadlai wiridan tersebut sampai terbayar lunas.
Pernah saat itu beliau terlihat sedang wiridan di depan kantor masyayikh MGS, lalu beliau memberi tahu santri yang sedang lewat di hadapannya dan berkata:
“Aku iki lagi ngqadhai wiridanku.”
Seperti itulah sifat keistiqamahan beliau.
Sikap Beliau Terhadap Santri-Santrinya
Sewajarnya menjadi seorang kiai tentu memiliki sifat perhatian kepada para santrinya, Mbah Him juga seperti itu sangat perhatian sekali kepada santri-santrinya yang masih baik yang berstatus di pondok maupun yang sudah menjadi alumni. Perhatiannya Mbah Him terhadap para alumni ini dialami sendiri oleh KH. Amir Mahmud (santri kinasih yang dekat dengan beliau) sewaktu sudah pulang dari pondok, kemudian saat beliau sowan kepada Mbah Him untuk meminta doa agar cepat mendapatkan rezeki, lantas beliau ditanya oleh Mbah Him:
Mbah Him: “Bagaimana di rumah, sudah mengajar? Udah kerja apa?”
KH. Amir Mahmud: “Belum, Yai.”
Mbah Him: “Lho tidak bisa-tidak bisa, masalah ekonomi itu tidak boleh didapatkan dengan cara duduk di rumah berdoa saja, kalau ingin mendapatkannya ya harus ikhtiar.”
Akan tetapi sikap perhatian beliau tersebut banyak dari santri yang kurang memahami karakter asli beliau, sehingga waktu dinasehati sikap santri malah menjauh dari beliau karena mengira bahwa Mbah Him akan duko-duko (murka/marah), padahal tidak demikian. Bahkan beliau kalau memikirkan santrinya itu mulai dari ngajinya, kegiatan di pondok, bahkan nasib ketika sudah di rumah itu tetap ditanyakan oleh beliau.
Mendidik Santri Yang Tidak Taat Peraturan
Mbah Him kalau menghukum santri-santri yang nakal dan sering melanggar peraturan pondok tidak pernah menampakkan rasa benci sedikitpun terhadap mereka. Tujuan yang beliau lakukan untuk menghukum para santrinya tak lain ialah untuk memperbaiki akhlak santrinya agar tidak jauh melenceng dari ajaran syariat. Apa saja yang beliau lakukan itu tulus, bukan karena digerakkan oleh nafsunya, kalau sudah selesai memberi hukuman kepada santri pada hari itu, nanti hari selanjutnya beliau sudah bersikap biasa lagi kepada santri-santrinya, karena hukuman yang beliau berikan hanyalah untuk litta’dib (dalam rangka mengajarkan tatakrama).
Masyarakat Sering Meminta Tolong Kepada Beliau
Beliau merupakan kiai yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, karena kehadiran beliau di tengah-tengah masyarakat menjadi peredam antara pertikaian yang terjadi. Di masyarakat Mbah Him terkenal dengan sebutan kiai tulung, artinya banyak masyarakat yang meminta tolong kepada Mbah Him agar membatu menyelesaikan masalah. Hal yang saat ini masih dikenang masyarakat, dulu pernah suatu saat beliau diajak masyarakat dihadirkan di tempat kejadian masalah untuk membatu menyelesaikan konflik mengenai tanah masjid yang mengambil sebagian sedikit tanahnya salah satu warga, bahkan sampai hampir terjadi keributan. Akhirnya kedatangan beliau dapat menyelasaikan konflik tersebut tanpa adanya protes dari warga sekitarnya.
Peduli Terhadap Kondisi Masyarakat
Perhatian Mbah Him tidak hanya pada pondok dan santri-santrinya saja, kewajiban beliau menjadi seorang kiai juga mempunyai rasa perhatian dengan masyarakat sekitar. Ini terlihat saat beliau melihat keadaan kondisi para petani garam, dan petani-petani yang lain merasa kesusahan mencari air untuk mengaliri tambak atau sawahnya, Mbah Him mengajak santri santrinya malam-malam pergi ke sawah, semua perbekalan beliau disiapkan semua oleh santrinya, mulai dari selimut, air untuk minum, bersuci, dan qodha’ul-hajat, serta sepet (kulit kelapa yang dibakar untuk mengusir nyamuk).
Sesampainya di sawah, Mbah Him membaca wirid dengan santri-santrinya dan setelah selesai beliau berdoa kepada Allah, Mbah Him berdoa sambil menangis. Hal yang dilakukan Mbah Him itu banyak dari masyarakat yang tidak mengetahui sebenarnya kiai itu sangat perhatian dengan masyarakat namun dengan cara yang berbeda. Selama ini masyarakat yang membeda-bedakan kalau kiai ini perhatian dan kalau kiai itu tidak, dan persepsi mereka yang mengatakan kiai yang perhatian dengan standar yang dilihat masyarakat, itu merupakan pemahaman yang salah. Sebenarnya semua kiai itu perhatian dengan masyarakatnya namun dengan spesialis yang berbeda-beda.
Mbah Him Mengajak Santri-Santrinya Berdoa Meminta Turunnya Hujan
Pada saat musim kemarau tiba, Mbah Him biasanya mengajak santri-sntrinya untuk membaca doa dan wirid untuk meminta hujan tanpa melakukan sholat istisqo’ terlebih dahulu, Doa yang beliau baca untuk meminta hujan seringkali berbeda, terkadang beliau membaca doa dan wirid, terkadang tahlil, terkadang juga sholawat nariyah, memang tidak sewajarnya dan tidak ada yang pakem dengan doa yang beliau baca. Anehnya sebelum Mbah Him beranjak dari tempat duduknya setelah beliau berdoa tidak lama kemudian hujan turun.
Menurut cerita yang masyhur, Mbah Him setelah jama’ah maghrib beliau selalu wiridan kitab Fathul-Qorib, tapi pernah saat itu ngaji diliburkan dan santri-santri yang ingin ngaji diminta untuk membaca Qashidah Burdah dengan dipimpin beliau sampai khatam setelah selesai Mbah Him langsung mengimami sholat jamaah isya’, baru setelah jamaah isya’ selesai, hujan turun dengan deras, santri-santri yang melihat kejadian itu sangat takjub semua, tapi santri santri tetap bergembira dengan turunnya hujan tersebut, bahkan ada santri yang berkata sambil lari-lari hujan-hujanan:
“Dungane Mbah Him qabul-qabul!” (doanya mbah him terkabulkan)
Mbah Him Ngundang Ombak
Terkadang beliau pergi ke tambak, dan melihat tambak-tambak yang ada tidak terisi air karena air sungai tidak masuk menuju tambak, lalu malam-malam Mbah Him mengajak KH. Amir Mahmud, santri beliau pergi ke tambak di desa Perak. Berhubung air sungai itu debit airnya berkurang, saking banyaknya digunakan untuk mengaliri tambak, dan air laut tidak masuk ke dalam sungai, akhirnya Mbah Him bersama santrinya berdzikir untuk mengundang ombak, ombak yang diundang itu akan minggir semua dan masuk ke dalam sungai. Semua orang tidak ada yang mengetahui kalau malamnya itu Mbah Him khusyuk menangis berdoa kepada Allah untuk kesejahteraan masyarakat, tau-tau paginya air sungai sudah penuh dan dapat dimanfaatkan oleh para petani tambak.
Pesan-Pesan Beliau Terhadap Para Santrinya
Santri di rumah harus menyempatkan waktunya untuk mengajar, beliau menasehati santri-santrinya dengan bahasa yang sederhana:
“Rak ketang alif, ba’, ta’, pokok e kudu mulang.” (setidaknya walaupun alif, ba’, ta’, harus diajarkan).
“Tapi yo kudu mergawe mbarang.” (akan tetapi harus berkerja juga).
Intinya jadi santri harus “mergawe seng tenanan ngaji seng tenanan” supaya dua sisi terpenuhi baik sisi duniawi dan ukhrowi. Pernah Mbah Him bercanda dengan santri yag sedang sowan kepada beliau:
“Santri kok ngaji terus, bar ngaji yo mulang mosok ngaji terus, mosok mangan terus orak dimetokke, yo bar mangan yo ngising ojo mangan terus.”
Menjelang Wafat
Usia Mbah Him kian tahun kian bertambah, beliau mengalami sakit-sakitan menjelang wafatnya. Beliau sakit selama kurang lebih satu setengah tahun, meski demikian beliau menghadapinya dengan sabar dan penuh tawakkal kepada Allah. Sebelum meninggal sering sekali beliau menanyakan kepada putranya KH M. Sa’id:
“Sekarang apakah hari jumat sehingga engkau sering ke sini menjengukku?”
Beliau bertanya seperti itu dengan harapan agar beliau menghadap Sang Khalik di hari mulia itu. Hingga akhirnya, Allah mengabulkan apa yang beliau harapkan. KH Abdurrochim berpulang ke rahmatullah tepat pada hari Jum’at Pahing tanggal 21 Ramadan 1422 H/7 Desember 2001 M pada pukul 05.30 WIB pagi dalam usia 66 tahun. Semoga Allah senantiasa merahmati beliau dan menempatkannya bersama para shalihin Amin.
Al-Fatihah
Editor: Achmad Fitrul Faizin