Habib Zain bin Sumaith dalam kitab “Al-Fawāid al-Mukhtārah Li Sālik Tharīq al-Ākhirah” menyatakan:

النوم ليلا يعين الشخص على إحياء ما بعد الصبح وهو وقت شريفة خصوصا في رمضان، فمن أحياه ونام الليل كله أفضل ممن أحيا الليل كله ونام بعد الصبح
“Tidur di malam hari membantu seseorang untuk menghidupkan ibadah setelah subuh. Waktu tersebut adalah waktu istimewa terutama pada bulan Ramadhan. Orang yang menghidupkan ibadah pada waktu tersebut dan tidur sepanjang malamnya lebih baik daripada orang yang beribadah sepanjang malam namun tidur setelah subuh.”
Disebutkan oleh Habib Abdullah bin Alawi al-Haddād dalam kitab Risālah Ādāb Sulūk al-Murīd mengenai keutamaan kemuliaan waktu ini:
كن شديد الحرص على عمارة ما بعد صلاة الصبح إلى الطلوع، وما بعد صلاة العصر إلى الغروب، فهذان وقتان شريفان تفيض فيهما من الله تعالى الأمداد على المتوجهين إليه من العباد
“Semangatlah dalam memanfaatkan waktu untuk ibadah di antara shalat subuh hingga terbit matahari dan setelah shalat ashar hingga maghrib karena pada dua waktu mulia tersebut Allah mencurahkan pertolongan kepada setiap hamba yang beribadah kepada-Nya.”
Mengenai Sebagian dari sir tersebut, Habib Abdullah al-Haddād mengatakan,
في عبادة ما بعد الصبح خاصية قوية لجلب الأرزاق الجسمانية، وفيما بعد العصر خاصية الجلب الأرزاق القلبية، كذلك جربه أرباب البصائر والعارفون الأكابر. اهـ
“Ibadah setelah shalat subuh mengandung manfaat dahsyat untuk membuka rezeki material, sedangkan ibadah setelah ashar membuka pintu rezeki spritual. Hal ini telah dibuktikan oleh para wali-wali Allah yang besar.”
📚 Rujukan:
- Al-Fawāid al-Mukhtārah Li Sālik Tharīq al-Ākhirah. Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith. Ma’had Dar al-Lughah wa al-Da’wah. Hal. 454
- Risālah Ādāb Sulūk al-Murīd. Habib Abdullah bin Alawi al-Haddād al-Hadlramī. Dar al-Hawi. Juz 6. Hal. 27






